Berkat kegigihannya berjualan seblak, Rini mampu memperoleh pendapatan kotor yang fantastis, berkisar antara Rp.900 ribu hingga Rp.2 juta per hari. Selain melayani pelanggan yang ingin menikmati seblak di tempat, ia juga menyediakan layanan pesan antar untuk memudahkan para pelanggannya.
Pelanggan Seblak Umi pun tak pernah sepi. Mulai dari pelajar, anak-anak, hingga orang dewasa, semuanya gemar menikmati seblak racikan Rini. Mereka menilai bahwa seblak di sini tidak hanya enak, tetapi juga sangat terjangkau.
Baca Juga: Ratusan Ribu UMKM Kantongi Sertifikasi SNI di Awal Tahun 2025
“Saya suka sekali makan di sini, rasanya enak, apalagi yang pedas,” ujar Naila, salah satu pelanggan setia.
Sementara itu, menurut Feby, pelanggan lainnya, keunggulan Seblak Umi terletak pada rasanya yang pas dan tidak terlalu asin.
Baca Juga: Jeritan Pedagang Kecil: Syarat KPR Terlalu Tinggi
Bisnis seblak saat ini memang menjadi tren yang menjamur di kalangan masyarakat. Selain proses pembuatannya yang relatif mudah dan bahan-bahannya yang murah, peminatnya pun sangat banyak. Namun, di sisi lain, Rini mengakui adanya tantangan tersendiri, yaitu kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku *topping* ketika persediaan di Bintuni habis.












