Kedatangan rombongan pemuka agama Buddha ini bertujuan untuk menggelar ritual doa bersama sekaligus menaburkan bunga di pusara Presiden Republik Indonesia ke-4, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada sang bapak pluralisme.
Berziarah ke Mantan Presiden KH Abdurrahman, Wujud Nyata Toleransi Antarumat Beragama di Indonesia
Rombongan yang tergabung dalam misi bertajuk Indonesia Walk for Peace 2026 ini menapakkan kaki di area Pesantren Tebuireng sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum memulai prosesi sakral, puluhan biksu tersebut menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di fasilitas gazebo yang terletak di kawasan makam keluarga besar pesantren.
Baca Juga: JUMAT BERSIH SMPN 1 Grogol Libatkan Seluruh Warga Sekolah
Suasana di sekitar lokasi terasa begitu teduh dan syahdu, memadukan dua dimensi spiritual yang berbeda namun harmonis; sayup-sayup suara lantunan doa tahlil dari para peziarah Muslim mengalun bersamaan dengan kehadiran para biksu yang bersiap merajut harmoni di ruang yang sama.
Keheningan yang khidmat segera menyelimuti area pemakaman saat satu demi satu biksu mulai melangkah mendekati pusara Gus Dur. Mereka kemudian mengambil posisi duduk bersila secara tertib dan mulai merapalkan doa-doa suci sesuai dengan tradisi keyakinan mereka.
Baca Juga: Ketua DPRD Magetan Suratno Tersangka Kasus Korupsi Dana Pokir Ratusan Miliar
Dalam barisan para pemuka agama Buddha tersebut, tampak hadir pula Riza Yusuf Hasyim, atau yang akrab dipanggil Gus Riza. Cucu dari sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari, ini ikut duduk membaur di tengah-tengah barisan para biksu, memperlihatkan kebersamaan yang tulus tanpa sekat.
Setelah prosesi doa bersama selesai dipanjatkan, kegiatan dilanjutkan dengan ritual tabur bunga. Menggunakan keranjang-keranjang yang dipenuhi bunga segar, para biksu secara bergantian menaburkannya di atas pusara Gus Dur.
Baca Juga: Skandal Korupsi Dana Pokir DPRD Magetan Seret Sang Ketua Menuju Jeruji Besi
Tidak hanya makam sang guru bangsa saja yang mendapatkan penghormatan, seluruh makam tokoh besar yang berada di dalam kompleks tersebut juga ditaburi bunga, mulai dari makam KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, KH Yusuf Hasyim, hingga KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah.
Berdasarkan penjelasan dari ketua rombongan, Bhante Tejapunno, perjalanan spiritual ini diikuti oleh total 57 biksu yang berasal dari empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, Laos, dan Thailand.
Misi berjalan kaki ini membutuhkan waktu hingga puluhan hari, yang mana titik keberangkatan awal dimulai dari Brahmavihara-Arama yang terletak di Buleleng, Bali, pada tanggal 9 Mei 2026. Perjalanan spiritual jarak jauh ini direncanakan akan mencapai garis akhir di Candi Borobudur, Magelang, bertepatan dengan momentum Hari Raya Waisak 2026 yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2026.
“Hari ini kita melakukan doa bersama di makam Gus Dur. Tidak ada kalimat terbaik selain doa,” tutur Bhante Tejapunno, biksu yang diketahui berasal dari Banyuwangi tersebut.
Bagi komunitas umat Buddha, nama Gus Dur menempati posisi yang sangat istimewa berkat kontribusi besarnya dalam merawat kebinekaan. “Beliau adalah guru bangsa.
Jasa-jasa itulah yang selalu kami ingat,” ucap Bhante Tejapunno dengan penuh ketulusan. Kehadiran para biksu lintas negara ini mengukuhkan pesan kuat bahwa sekat-sekat perbedaan iman dan kewarganegaraan dapat dijembatani melalui tindakan damai yang penuh dengan rasa hormat.
Ziarah lintas agama yang dilakukan oleh para biksu Asia Tenggara ini kembali menegaskan betapa kuatnya fondasi toleransi yang telah diwariskan oleh para leluhur bangsa Indonesia di Pesantren Tebuireng Jombang.
Melalui simbolisasi tabur bunga dan doa bersama ini, nilai-nilai kemanusiaan global yang dahulu konsisten disuarakan oleh Gus Dur terbukti tetap hidup dan melampaui batas-batas generasi. Ke depan, langkah kaki para biksu menuju Candi Borobudur ini diharapkan terus memancarkan inspirasi perdamaian bagi tatanan masyarakat dunia yang lebih harmonis.












