Kediri, Memo
Bagi Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, pembangunan fisik gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) hanyalah langkah awal dari sebuah peta jalan besar untuk menciptakan kemandirian ekonomi di setiap desa.
Ia kini menaruh perhatian penuh pada aspek profesionalitas SDM pengelola, menekankan bahwa kunci keberhasilan sebuah entitas ekonomi bukanlah megahnya bangunan, melainkan ketahanan operasional dan kemampuan memberikan dampak bagi masyarakat luas.
Sebagai pemimpin daerah yang akrab disapa Mas Dhito, Hanindhito memahami betul bahwa tantangan terbesar dalam mengelola koperasi desa bukanlah pada tahap konstruksi, melainkan pada tahap eksistensi jangka panjang.
Di bawah pengawasannya, program KDKMP tidak hanya dipandang sebagai proyek pemerintah, melainkan sebagai wadah penggerak roda ekonomi yang harus dikelola dengan pendekatan korporasi yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Bagi Mas Dhito, sosok pengelola koperasi adalah penentu utama keberhasilan program ini. Ia secara konsisten menekankan pentingnya bagi para pengurus koperasi untuk melepaskan pola pikir konvensional dan mulai beradaptasi dengan manajemen modern.
Hal ini mencakup pemetaan potensi desa yang akurat, pengelolaan inventaris yang rapi, hingga pelayanan pelanggan yang kompetitif. Bupati berusia muda ini menginginkan agar koperasi tidak hanya menjadi etalase barang, melainkan benar-benar mampu menyerap produk lokal dan meningkatkan nilai tambahnya.
Pandangannya sangat pragmatis. Mas Dhito menyadari bahwa setiap desa di Kabupaten Kediri memiliki keunggulan kompetitif yang berbeda-beda. Oleh karena itu, ia mendorong agar setiap pengelola KDKMP memiliki otonomi untuk berinovasi sesuai kebutuhan warga setempat.
Apakah itu berupa pengolahan produk hasil tani, penyediaan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, atau unit layanan logistik yang terintegrasi. Baginya, koperasi yang sehat adalah koperasi yang mampu “menghidupi” dirinya sendiri melalui unit usaha yang relevan.
Dalam berbagai kesempatan, ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara unit usaha koperasi dengan ekosistem UMKM. Mas Dhito menempatkan KDKMP sebagai agregator yang membantu UMKM lokal untuk naik kelas. Dengan manajemen yang profesional, produk-produk desa tidak hanya berhenti di pasar lokal, namun memiliki potensi untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Langkah ini didukung penuh oleh pemerintah daerah dengan penyediaan fasilitas penunjang, seperti armada logistik, untuk mempercepat sirkulasi barang antarwilayah.
Kepemimpinan Mas Dhito dalam hal ini tidak sekadar memberikan perintah, tetapi juga memastikan ada pendampingan berkelanjutan. Dengan melibatkan berbagai elemen, termasuk aparat kewilayahan dan TNI, ia ingin memastikan bahwa KDKMP memiliki ekosistem pendukung yang kuat.
Baginya, tidak ada ruang untuk “koperasi yang mati suri”. Fokusnya sangat jelas: memastikan setiap rupiah yang diinvestasikan dalam program ini memberikan imbal balik berupa kesejahteraan bagi masyarakat desa dan terciptanya lapangan kerja baru secara mandiri. (adv/kominfo)












