Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
NGANJUK

SDP : Pancasila Lahir Tanpa Akhir , Bukan Sekedar Ideologi Tapi Nafas Bangsa Yang Wajib Dijaga

Mulyadi Memo
×

SDP : Pancasila Lahir Tanpa Akhir , Bukan Sekedar Ideologi Tapi Nafas Bangsa Yang Wajib Dijaga

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, MEMO – Sejarah bangsa mencatat ada tiga moment penting di bulan Juni . Apa saja itu ?. Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila. Moment penting kedua tepatnya pada tanggal 6 Juni adalah hari lahirnya Bung Karno ( Presiden RI pertama ). Dan di moment penting ke tiga tepatnya pada tanggal 21 Juni adalah sejarah wafatnya sang proklamator atau dalam penanggalan Jawa jatuh pada hari Minggu Kliwon tahun 1970.

Menilik catatan sejarah bangsa seperti itu ternyata ada pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk dijadikan pedoman bermasyarakat, beragama dan bernegara secara universal.

Baca Juga: SDP Terima Bantuan 1 Ekor Hewan Kurban Dari PDIP Jatim , Begini Ungkapan SDP ...

Harapan besar bangsa tentunya dengan falsafah Pancasila bisa menjadikan bangsa bermartabat berkepribadian mulia. Antar pemeluk agama saling toleransi, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persatuan , mengedepankan musyawarah mufakat untuk mencapai keadilan.

Framing itu tampaknya masih berbalik arah . Konflik agama terus bermunculan, gesekan antar golongan dan kelompok suku masih ada, hilangnya budaya gotong royong. Termasuk kasus tawuran antar pelajar sampai dengan tindak kriminal lainnya seperti penggunaan obat terlarangan dikalangan pelajar.

Baca Juga: Menjunjung Tinggi Nilai Kebersamaan Dan Kemanusiaan , Tahun Ini DPD LDII Nganjuk Kurban 269 Sapi dan 424 Kambing

” Ini fakta memprehatinkan , di moment hari lahirnya Pancasila ini mari kita membangkitkan kesadaran kembali menjadi bangsa yang berpancasila,” ujar Kepala Desa Kampungbaru ,Susilo Dwi Prasetyo.

Dari hasil perbincangan ringan dengan wartawan memo.co.id, SDP panggilan akrab Kades Kampungbaru menjelaskan secara gamblang bahwa kondisi sebuah bangsa itu akan sangat rapuh dan hancur manakala sebuah bangsa kehilangan jati dirinya.

Baca Juga: Ngontel Kertosono – Prambanan, Heri Koko dan Doni Jadi Sumber Inspirasi Keluarga Besar KOSTI Nganjuk

Hilangnya jatidiri bangsa karena telah meninggalkan falsafah Pancasila. Karena Pancasila itu sendiri merupakan fundamental bangsa untuk menyangga kontruksi bangsa bisa berdiri kokoh sampai kapanpun.