Blitar, Memo.co.id
Pagi itu, Minggu 3 Mei 2026, Lapangan Cangkring, Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, tak sekadar ramai. Ia berdenyut. Sejak matahari baru menghangatkan rumput, ratusan warga sudah berbaris, membawa satu harapan sederhana: sembuh tanpa harus selalu bergantung pada obat kimia.
Di tengah kerumunan itu, hadir metode pengobatan yang namanya mulai akrab di telinga masyarakat: Totok Saraf Jari Api.
Berbasis di RT 2 RW 1 Dusun Besuk, Desa Ringinanom, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, terapi ini menggabungkan teknik akupresur dengan sentuhan minyak khusus. Bukan sekadar pijatan biasa para terapis menyasar titik-titik saraf tertentu yang dipercaya mampu membantu meredakan berbagai keluhan, mulai dari saraf kejepit, nyeri leher dan bahu, sakit pinggang, hingga keluhan ringan seperti kram, sakit kepala, dan gangguan pencernaan.
Baca Juga: 9 Pasar di Blitar Kian Sepi, DPRD Desak Disperindag Tinggalkan Cara Lama
Di bawah naungan organisasi Perkumpulan Para Pemijat Penyehatan Indonesia (P-AP3I), para terapis ini tak hanya mengandalkan pengalaman, tapi juga berupaya menjaga standar profesionalisme di dunia pengobatan tradisional.
Suasana di lokasi pun terasa berbeda. Setelah sesi terapi, wajah-wajah yang semula tegang perlahan mencair. Ada yang tersenyum lega, ada pula yang sekadar menarik napas panjang seolah beban yang lama dipikul ikut luruh bersama tekanan jari-jari terapis.
Baca Juga: Paguyuban Petani Tebu dan Sopir Truk Bersatu, Perbaiki Jalan Rusak Blitar Selatan Secara Swadaya
Kegiatan bakti sosial pengobatan gratis ini digelar oleh DPC P-AP3I Kabupaten Blitar berkolaborasi dengan Laskar Peduli Kasih. Tak tanggung-tanggung, puluhan terapis dari berbagai wilayah di Blitar diterjunkan langsung untuk melayani masyarakat sejak pukul 07.00 hingga 11.00 WIB.












