Menariknya, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah tokoh senior di bidang pengobatan tradisional mereka yang telah lama mengabdikan diri, menjaga warisan metode penyembuhan berbasis sentuhan.
Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Blitar, Rijanto, turut menambah perhatian publik. Bahkan, ia menyempatkan diri merasakan langsung terapi tersebut.
“Para pemijat ini sangat bagus sekali keterampilannya. Saya merasakan sendiri pijatannya sangat enak,” ujarnya.
Namun di balik apresiasi itu, Rijanto juga mengingatkan pentingnya legalitas. Ia mendorong para terapis segera mengurus Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) sebagai bentuk pengakuan resmi, sekaligus perlindungan bagi praktisi dan masyarakat.
Baca Juga: 9 Pasar di Blitar Kian Sepi, DPRD Desak Disperindag Tinggalkan Cara Lama
“Pemerintah siap mendampingi,” tambahnya.
Lebih dari sekadar kegiatan sosial, momentum ini menjadi cermin bahwa pengobatan alternatif masih memiliki tempat di hati masyarakat. Di tengah derasnya modernisasi, ada ruang yang tetap hangat tempat di mana sentuhan manusia, kepercayaan, dan harapan bertemu.
Baca Juga: Paguyuban Petani Tebu dan Sopir Truk Bersatu, Perbaiki Jalan Rusak Blitar Selatan Secara Swadaya
Dan di sanalah, “Jari Api” bekerja diam, sederhana, tapi perlahan menghidupkan kembali rasa nyaman yang sempat hilang.












