Blitar, Memo.co.id
Menjelang Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dinamika perebutan kursi Ketua Umum mulai memanas. Nama Drs. KH. M. Musyaffa’ Noer, MM muncul sebagai kandidat kuat yang dinilai paling layak memimpin partai berlambang Kakbah tersebut.
Baca Juga: Bos Wisata Kampung Coklat Beri THR kepada 7.000 Peserta Pengajian
Imam Fauzi, pengamat politik nasional sekaligus Koordinator Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA untuk Jawa Timur dan Bali, menyebut Musyaffa’ Noer memiliki integritas dan rekam jejak yang tidak diragukan lagi di tubuh PPP.
“Beliau adalah kader murni, berintegritas, dan punya pengalaman panjang. Tidak hanya memahami dinamika internal, tetapi juga terbukti mampu menjaga soliditas partai di daerah. Itu modal besar untuk memimpin PPP ke depan,” tegas Imam Fauzi, Rabu (10/9/2025).
Baca Juga: Cegah Kasus Keracunan, Nurhadi Dukung Evaluasi dan Klasifikasi Dapur SPPG
“Kalau kita melihat pada kontestasi Pileg 2024 kemarin, PPP hanya meraih 3,87 persen. Ini tentu fakta sejarah yang menyakitkan ya bagi PPP. Nah, kedepan saya kira tantangan terbesarnya PPP adalah butuh figur yang mampu mengkonsolidasi baik ke dalam ataupun ke luar,” sambungnya.
Imam yang juga Kandidat Doktor Kebijakan Publik Universitas Brawijaya ini menjelaskan, Musyaffa’ bukanlah sosok baru di PPP. Ia pernah menjabat Ketua DPW PPP Jawa Timur, menjadi anggota DPRD Jatim, hingga kini aktif di kepengurusan DPP.
Baca Juga: SPPG Ringinanyar Mulai Jalan Dulu, Ahli Gizi dan SLHS Menyusul: Pengawasan Ke Mana?
“PPP sedang membutuhkan figur konsolidator, bukan sekadar simbol. Musyaffa’ sudah teruji di lapangan, terutama saat membesarkan partai di Jawa Timur, salah satu basis strategis PPP,” lanjutnya.
“PPP butuh figur-figur yang betul-betul organik, yang betul-betul memahami proses ke depan. Karena kita lihat secara data bahwa 56 persen itu pemilih ada di Jawa dan kemudian 21 persennya itu ada di Jawa Timur. PR terbesarnya di sana, dibutuhkan figur-figur yang kuat secara akar umput, figur yang memahami betul secara organik,” benernya.
Namun, Imam menilai sosok Ketua Umum tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada dukungan Sekretaris Jenderal yang kuat agar kepemimpinan berjalan maksimal. Dalam hal ini, Imam menyebut nama Taj Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus putra ulama kharismatik KH. Maimoen Zubair.












