MEMO,Bangkalan: Pandemi Kekeringan yang melanda Kabupaten Bangkalan mengakibatkan lahan pertanian tidak dapat digarap, memaksa masyarakat berjuang bertahan dengan beralih profesi sebagai kuli bangunan dan pedagang.
Dampaknya terungkap saat seorang warga Desa Pengeleyan, Ulhaq Alfarisi, menceritakan perjuangannya dalam menghadapi musim kemarau yang menghantam wilayah tersebut.
Warga Bangkalan Beralih Profesi Jadi Kuli Bangunan dan Pedagang
Akibat musim kemarau yang membuat lahan pertanian tidak dapat digarap, masyarakat di wilayah Kabupaten Bangkalan yang terkena dampak kekeringan dan kekurangan air bersih banyak beralih profesi untuk bertahan hidup. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah menjadi kuli bangunan dan berdagang.
Kabupaten Bangkalan: Petani Diimbau Manfaatkan Pola Tanam Tahan Kekeringan
Salah seorang warga Desa Pengeleyan, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, bernama Ulhaq Alfarisi, ketika diwawancarai , mengungkapkan bahwa ketika musim kemarau tiba, para pemilik lahan sawah dan tegalan di desanya rata-rata tidak dapat menanam tanaman pertanian.
Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk pergi merantau ke Surabaya dan sekitarnya untuk berdagang dan menjadi buruh serabutan, seperti menjadi kuli bangunan.
“Nanti ketika musim hujan tiba, masyarakat desa di sini kembali pulang kampung untuk menggarap lahan pertanian, dan hal serupa juga dialami oleh tetangga di desa lain,” ungkap Ulhaq Alfarisi pada Jumat (28/7/2023).
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (Dispertahortbun) Kabupaten Bangkalan, yaitu Puguh Santoso, menyatakan bahwa rata-rata di Kabupaten Bangkalan, lahan pertanian mengandalkan hujan sebagai sumber air.
Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada para petani yang sering mengalami kekeringan saat musim kemarau untuk mengatur pola tanam. Salah satunya adalah dengan menanam tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti umbi-umbian dan jenis tanaman lainnya.
Selain itu, lahan pertanian yang mengandalkan air hujan berada di wilayah Kecamatan Geger, Kokop, Konang, Klampis, Tanjung Bumi, Socah, Burneh, Galis, Tanah Merah, dan Kecamatan Arosbaya,” tutupnya.
Pertanian Tangguh Hadapi Musim Kemarau di Bangkalan”
Menghadapi pandemi kekeringan yang mempengaruhi wilayah Kabupaten Bangkalan, para petani harus berjuang keras dalam mengatasi krisis lahan pertanian yang tidak bisa digarap.
Hal ini memaksa masyarakat setempat untuk mencari solusi alternatif guna menyambung hidup di tengah kesulitan yang terus berlanjut.
Salah satu warga Desa Pengeleyan, Ulhaq Alfarisi, mengungkapkan bahwa setiap musim kemarau tiba, para pemilik lahan sawah dan tegalan di desanya tidak dapat menanam tanaman pertanian.
Sebagai akibatnya, mereka terpaksa merantau ke kota besar seperti Surabaya dan sekitarnya, mencari nafkah sebagai kuli bangunan dan pedagang demi mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Saat berhadapan dengan krisis kekeringan, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bangkalan, Puguh Santoso, memberikan imbauan kepada para petani agar memanfaatkan pola tanam yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti menanam jenis tanaman yang lebih adaptasi kekurangan air, termasuk umbi-umbian.
Wilayah-wilayah tertentu seperti Kecamatan Geger, Kokop, Konang, Klampis, Tanjung Bumi, Socah, Burneh, Galis, Tanah Merah, dan Kecamatan Arosbaya menjadi fokus perhatian untuk mengembangkan pertanian yang mengandalkan air hujan sebagai upaya untuk mengatasi tantangan musim kemarau.












