Memo.co.id – Lumbung Pangan, Saatnya Sekarang Nguri nGuri Lagi, Tradisi Melumbung . Virus SARS-CoV-2 membatasi mobilitas manusia.
Karena tidak bisa seenaknya berbelanja untuk mencukupi kebutuhan harian, terutama pangan, strategi untuk menyimpan makanan kembali menjadi bahasan yang menarik.
Baca Juga: Dari Blitar Berprestasi, Kini Muklisin Buka Babak Baru Kolaborasi di Banyuwangi
Padahal, sebenarnya Indonesia punya tradisi melumbung. Yakni, menyimpan bahan pangan di lumbung.
’’Pandemi ini jadi terasa sekali bagaimana kita harus seperti semut yang menimbun makanan di rumah. Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus banyak keluar rumah,” ujar Priyo Pratikno
Baca Juga: Otoritas Pajak Bidik Sepuluh Korporasi Sawit Kakap Terkait Indikasi Manipulasi Setoran Negara

Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Tegaskan Integritas, Hindari Korupsi dan Fokus Reformasi
Arsitek yang juga pengurus Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) itu menyatakan bahwa setiap daerah di Indonesia kenal melumbung.
Tradisi yang juga menjadi cara untuk mempertahankan ketersediaan pangan itu bisa dilakukan secara pribadi atau kelompok.
Sebagai arsitek, Priyo memperhatikan pengaruh tradisi melumbung tersebut pada arsitektur rumah. Suku Minang, misalnya. Sejak zaman nenek moyang, mereka membangun lumbung di halaman depan rumah gadang.
’’Lumbung-lumbung tersebut dibuat sebagus mungkin. Itu salah satu lambang status sosial,’’ ujarnya. Selain untuk menunjukkan prestise, alasan menempatkan lumbung di depan rumah adalah keamanan.












