Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Nganjuk

Tragedi Kemanusiaan Lahir Dari Kebijakan Sepihak, 30 Buruh Harian Lepas Terpuruk Kehilangan Pekerjaan

Mulyadi Memo
×

Tragedi Kemanusiaan Lahir Dari Kebijakan Sepihak, 30 Buruh Harian Lepas Terpuruk Kehilangan Pekerjaan

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 09 20 09 58 15 43 1

NGANJUK, MEMO – Tragedi kemanusiaan lagi lagi menimpa kaum sandal jepit ( wong alit,red). Ada sekitar 30 buruh harian lepas yang bekerja di salah satu home industri produsen pakan ternak di Dusun Pugruk Desa Tanjungrejo Kecamatan Loceret harus kehilangan pekerjaanya.

Nasib buruk itu dialami para buruh gara gara terimbas karena tempat mereka bekerja tiba tiba ditutup oleh dinas lingkungan hidup dan Satpol PP terhitung sejak tiga hari silam ( kamis,17/09/2026).

Penutupan sementara itu dipicu karena munculnya problem lingkungan. Yaitu terkait bau menyengat yang ditimbulkan dari bahan baku pembuatan pakan ternak berasal dari limbah sosis yang didatangkan dari PT Belfoods ,Rejoso.

Di balik persoalan ini tampaknya mengundang perhatian khusus dari semua pihak. Salah satunya berasal dari penggiat dan pemerhati lingkungan hidup, Arif Rahman.

” Yang patut dipertanyakan adalah tahapan penutupannya apa sudah sesuai prosedur.,” terang Arif Rahman.

Kalau melihat fakta yang ada masih kata Arif , langkah keputusan yang diambil Dinas Lingkungan Hidup ( LH) terkesan sepihak. Semestinya ada upaya step by step dalam memutuskan permasalahan. Lebih lebih ini menyangkut hak hidup karyawan. Minimal diawali mengirim surat peringatan dulu atau melakukan konsolidasi dan klarifikasi terlebih dahulu. Tidak langsung hantam kromo ditutup.

” Kalau pengusaha raksasa melanggar aturan masih diberi toleransi, tapi giliran pengusaha kecil langsung dapat kartu merah. Dimana asas keadilanya,” ujar Arif Rahman.

Padahal jelas jelas lebih jauh dikatakan Arif Rahman dalam persoalan ini sudah ada etikat baik dari pihak pengusaha. Salah satunya mengadakan pertemuan musyawarah dengan perwakilan warga di dua desa ( Desa Tanjungrejo dan Klurahan Keramat).

Dari hasil musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan yang berimbang antara kedua belah pihak. Salah satunya pihak pengusaha komitmen mengatasi bau secara maksimal agar tidak mencemari warga.

Dari hasil kesepakatan itu dituangkan dalam berita acara kesepakatan antara warga dan pengusaha dan ditandatangani bersama secara mufakat.

Artinya dalam berita acara tersebut muncul kata sepakat kegiatan produksi bisa dilanjutkan asal pihak pengusaha bisa menghilangkan bau yang mencemari lingkungan sekitar pabrik.

” Untuk rencana demo saya yakin itu hanya isu belaka sengaja di hembuskan oleh sekelompok orang yang tidak sepaham dengan berdirinya home industri ini. Ingat keberadaan home industri ini membantu daerah mengurangi pengangguran dan kemiskinan,” papar Arif juga.

Diinformasikan upah harian lepas karyawan di home industri pengolahan pakan ternak Tanjungrejo ini satu harinya dibayar kurang lebih Rp 75 ribu sampai Rp 110 ribu perhari sesuai dengan yang dikerjakan masing masing karyawan.

Yang pasti seandainya pemerintah daerah tetap bersikukuh tidak akan membuka kembali kegiatan pengolahan pakan ternak beroperasi kembali, maka sama halnya pemerintah daerah dengan sengaja telah merampas hak hak karyawan sehingga menciptakan pengangguran.

” Kalau kami tidak bisa bekerja lagi anak istri makan apa. Padahal satu satunya sumber penghasilan saya dari sini. Selain umur sudah tua ijasah rendahan tidak mungkin berharap bisa diterima kerja ditempat yang baru. Sangat impossible,” ujar Gatot Santoso salah satu karyawan.

Hal senada disampaikan Untung Dekorasi karyawan bagian penjemuran, peradukan dan packing barang ini memohon kepada pemerintah daerah sudi kiranya bisa membuka kembali home industri bisa beroperasi lagi.

” Kami disini rata rata adalah tulang punggung keluarga. Kalau sampai satu bulan tidak beroperasi maka daerah ikut serta menjadi pelaku memiskinkan rakyatnya sendiri,” singgung Untung.

Dari hasil pantauan memo.co.id dilokasi home industri tampak sepi. Sudah tidak ada lagi suara mesin molen untuk meraduk bahan baku. Termasuk suara alat packing tidak terdengar lagi. Yang ada hanya wajah murung para karyawan yang mayoritas berasal dari warga setempat ini. ( Adi )