Ia juga menekankan pentingnya menanamkan budaya menulis sejak dini agar santri memiliki jejak kreatif saat lulus nanti. “Mereka akan meninggalkan pesantren dengan karya, bukan hanya kenangan,” tambahnya.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program Literasi IBS, Heni Listiana, menjelaskan bahwa proses menulis buku dimulai sejak santri duduk di bangku kelas 7. Karya mereka baru layak terbit setelah melalui proses panjang selama satu tahun.
“Sekarang mereka sudah di kelas 9. Karya-karya ini hasil dari proses yang konsisten, bukan instan,” tegas Heni.
Lebih dari sekadar hasil, keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk turut aktif menulis dan berpikir kritis.
“Di tengah gempuran teknologi dan distraksi digital, literasi adalah benteng berpikir waras. Dan para santri kami telah menunjukkan bahwa pesantren juga bisa menjadi pusat produktivitas literasi,” pungkasnya.












