“Platform sebagai agen perubahan dan perbaikan yang dibawa Anies hanya mungkin jika bersama-sama Demokrat dan PKS. Jika berselancar sendiri apalagi bersekutu dengan status quo, maka misi sebagai agen perubahan dan perbaikan, menjadi tidak sinkron. Bahkan menciptakan keraguan dan kebingungan,” katanya.
Menurut Syahrial, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sudah berkorban cukup besar dengan mendeklarasikan Anies sebagai capres 2024, dan secara intensif bersama Demokrat dan PKS menciptakan format koalisi terbaik untuk pilihan rakyat.
Baca Juga: Sekolah Negeri Dituntut Berinovasi di Tengah Persaingan dengan Lembaga Swasta
Oleh karena itu, dia mengatakan di akar rumput akan merasakan yang buruk bila format dan komunikasi koalisi yang sudah dirancang antara NasDem, Demokrat, dan PKS diganggu dengan gimik politik murahan.
“Jangan karena Anies sedang bertemu dengan Luhut Pandjaitan lantas diamplifikasi bahwa Anies-Luhut cocok dipasangkan, atau karena Anies ketemu Gibran, lantas diorkestrasi bahwa Anies-Gibran bisa jadi alternatif,” ucapnya.
Baca Juga: KPK Turun Langsung, Cek Proyek hingga Kumpulkan Pejabat Blitar Secara Tertutup
Merespons hal tersebut, Waketum NasDem Ahmad Ali meminta pihak-pihak terkait tidak saling membungkam dan sensitif di tengah penjajakan koalisi antara partainya dengan Demokrat dan PKS.
Menurutnya, wacana yang disampaikan jajaran NasDem merupakan upaya untuk membangun sebuah pemikiran demi kepentingan bangsa Indonesia.
Baca Juga: Daftar Lengkap 27 Pejabat Tulungagung Diperiksa KPK Terkait Skandal Aliran Dana Pemerasan
“Koalisi ini jangan saling membungkam, jangan sensitif. Wacana itu harus diwacanakan untuk kita semua, tidak ada yang dilanggar NasDem ketika kita mencoba membangun suatu pemikiran untuk kepentingan bangsa,” katanya












