“Kalau sekolah diam, ini akan jadi budaya. Anak-anak bisa tumbuh menjadi pelaku kekerasan karena merasa dilindungi sistem yang lemah,” ujarnya tajam, semacam peringatan dini yang menggema.
Hingga berita ini ditulis, keheningan menyelimuti pihak-pihak yang seharusnya menjadi garda terdepan perlindungan anak: sekolah tempat insiden itu terjadi dan Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Didemo MAKI dan Aktivis, Pencalonan Eks Napi Korupsi Ketua KONI Kota Blitar Tuai Penolakan Keras
Tidak ada satu pun pernyataan resmi, tidak ada klarifikasi, seolah-olah insiden ini adalah riak kecil yang akan segera hilang ditelan waktu. Namun, kebisuan ini justru menambah luka, bukan hanya bagi korban yang mungkin trauma seumur hidup, tetapi juga bagi masyarakat yang mendambakan keadilan dan perlindungan yang nyata di dunia pendidikan.
Desakan publik semakin menggema, menuntut investigasi menyeluruh, hukuman yang tidak hanya menghukum tapi juga mendidik bagi pelaku, serta reformasi fundamental pada sistem pengawasan sekolah.
Baca Juga: CV Lang Buana Kembangkan Benih Tebu Unggul untuk Dukung Swasembada Gula
Sekolah, yang seharusnya menjadi benteng terakhir dalam membentuk karakter dan moral anak bangsa, kini dipertanyakan kredibilitasnya.
Kekerasan fisik yang terjadi di dalam institusi pendidikan bukan lagi hanya soal “salah pergaulan”; ia adalah cerminan dari bobroknya pengelolaan dan abainya kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Baca Juga: Panen Raya Jagung Serentak, Polres Blitar Dukung Swasembada Pangan Nasional
Jika dunia pendidikan, sebagai tiang penopang masa depan, gagal melindungi muridnya dari cengkeraman kekerasan, lalu kepada siapa lagi anak-anak ini harus bergantung?
Perundungan ini bukan sekadar luka pada tubuh seorang siswa; ia adalah alarm keras yang meraung bagi seluruh bangsa: Pendidikan kita sedang sakit parah, dan luka ini, jika terus dibiarkan dalam diam, bisa menjadi borok yang tak tersembuhkan.












