Dalam kesempatan tersebut, Luhut juga mengatakan bahwa penyebab dari penurunan harga nikel secara global dibandingkan dengan tahun sebelumnya adalah karena mencari titik keseimbangan harga yang baru. Ia juga menegaskan bahwa diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk memahami hal tersebut.
“Penurunan harga nikel merupakan bagian dari pencarian keseimbangan. Setiap komoditas harus dilihat dalam jangka waktu yang lebih panjang, bukan hanya dalam satu atau dua tahun, tetapi dalam 5-10 tahun. Perlu dilihat secara keseluruhan harga kumulatifnya serta rata-ratanya,” ungkap Luhut.
Baca Juga: Sekolah Negeri Dituntut Berinovasi di Tengah Persaingan dengan Lembaga Swasta
Harga nikel belakangan ini turun menjadi US$ 15.000 per ton atau sekitar Rp234 juta per ton.
Mengutip laporan dari The Business Times, harga nikel di LME telah turun hampir 50 persen sejak 3 Januari 2023. Pasar nikel mengalami situasi ini karena adanya banjir pasokan baru dari Indonesia sebagai dampak dari investasi dan kemajuan teknologi besar-besaran dari China.
Baca Juga: KPK Turun Langsung, Cek Proyek hingga Kumpulkan Pejabat Blitar Secara Tertutup
Dampak Penurunan Harga Nikel Dunia: Tom Lembong Menguatkan Keprihatinan atas Nasib Industri Smelter dan Tambang Nikel di Indonesia












