“Negara sudah menentukan secara administrasi, dan kita menghormati itu. Namun bagi kita di cabang, yang paling penting adalah tetap nyawiji — bersatu dalam rasa dan sikap. Tidak ada yang lebih tinggi dari rasa persaudaraan di PSHT,” imbuhnya.
Tasyakuran ini juga diisi dengan pertunjukan seni dan hiburan, serta makan bersama yang semakin memperkuat kehangatan suasana. Momen ini menjadi wadah penting dalam merawat semangat kekeluargaan dan menjembatani generasi muda dengan para sesepuh.
Baca Juga: Jatmiko Pastikan Jaga Jarak dari Kekuasaan: “Saya Tidak Manfaatkan Posisi Keluarga”
Bagi PSHT Kabupaten Blitar, dinamika organisasi di tingkat nasional tidak boleh menggerus nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Justru di tengah perbedaan, solidaritas dan kebesaran hati menjadi ujian sejati bagi setiap warga PSHT.
“Warga PSHT harus tetap menjadi teladan di tengah masyarakat. Kita tidak boleh terjebak pada egoisme kepentingan, karena hakekat dari ajaran kita adalah membentuk manusia berbudi luhur dan mampu membawa manfaat,” tegas Kang Mas Bagas menutup sambutannya.
Baca Juga: PKK Rejotangan Dorong Ketahanan Keluarga, Soroti Lonjakan Perceraian di Tulungagung
Melalui tasyakuran ini, PSHT Cabang Kabupaten Blitar kembali menunjukkan bahwa organisasi pencak silat bukan hanya tempat berlatih bela diri, tetapi juga kawah candradimuka pembentukan karakter dan penguat jalinan sosial masyarakat.**












