Blitar, Memo.co.id
Tangis itu tidak meledak. Ia mengalir pelan, seperti air pel yang setiap hari mereka peras di lorong-lorong RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Tangis 62 tenaga honorer cleaning service (CS) yang telah belasan hingga puluhan tahun mengabdi, kini menggantung di udara tanpa kepastian, tanpa penghidupan.
Baca Juga: SPPG YASB Sananwetan Tingkatkan Kualitas Dapur, Terapkan IPAL Modern Sesuai SOP BGN
Mereka bukan pegawai berdasi. Mereka adalah tangan-tangan yang membersihkan sisa darah, mengepel lantai IGD, mengangkat limbah medis, dan memastikan rumah sakit tetap layak disebut tempat penyembuhan. Ironisnya, justru mereka yang disingkirkan, seolah tak pernah ada.
Tanpa uang makan. Tanpa tunjangan. Upah yang diterima pun pas-pasan, sekadar cukup untuk dapur tetap mengepul. Namun itu mereka syukuri.
Baca Juga: KORMI Kabupaten Blitar Mulai Tancap Gas, Rakor Perdana Jadi Pondasi Awal
“Cukup bagi orang kecil seperti saya,” lirih Gigih, salah satu korban pemutusan kerja sepihak.
Selama bertahun-tahun, Gigih berangkat pukul 07.00 pagi, pulang sore hari. Rutinitas yang sama. Lantai yang sama. Keringat yang sama. Loyalitas yang sama. Hingga suatu hari, kabar itu datang seperti petir di siang bolong: mereka dinyatakan diberhentikan oleh PT Sasana Bersaudara Indonesia.
Baca Juga: Dukung Pembinaan Olahraga Pelajar, Turnamen Voli Kadin Cup 2025 Berlangsung Meriah
Padahal, kontrak ulang telah dijalani. Mereka dinyatakan lolos seleksi. Bahkan sudah kembali difungsikan bekerja seperti biasa. Namun semua itu seolah tak berarti apa-apa di hadapan selembar pengumuman pembatalan kerja.
“Surat datang, kami diminta berhenti. Salah kami apa?” tulis salah satu dari mereka dalam surat terbuka yang kini berseliweran di media sosial.
Yang lebih menyesakkan dada, sebagian dari mereka kehilangan pasangan hidup akibat Covid-19. Istri meninggal saat mereka tetap setia bekerja di garis belakang pandemi membersihkan ruang isolasi, menyapu jejak maut yang tak kasatmata.













