Example floating
Example floating
Bisnis

Rupiah Diramal Sentuh Rp17.000 per Dolar AS di 2026, Indonesia Dalam bahaya

A. Daroini
×

Rupiah Diramal Sentuh Rp17.000 per Dolar AS di 2026, Indonesia Dalam bahaya

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Institute for Development of Economics & Finance (Indef) mengeluarkan proyeksi yang cukup mencemaskan terkait nilai tukar Rupiah. Dalam laporan terbarunya, Indef memperkirakan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (US$) berpotensi menembus level Rp17.000 pada tahun 2026. Angka ini jauh melemah dibandingkan posisi tahun 2024 yang bergerak di rentang Rp16.000 hingga Rp16.700 per US$.

Proyeksi ini, yang tertuang dalam laporan bertajuk Menata Ulang Arah Ekonomi Berkeadilan (2025), tidak hanya dipandang sebagai tekanan jangka pendek. Indef menegaskan bahwa melemahnya mata uang domestik ini adalah cerminan dari masalah struktural yang mendalam dalam perekonomian nasional dan tingginya permintaan valuta asing untuk kebutuhan perdagangan.

Baca Juga: Wajib Pajak Wajib Tahu! Pelaporan SPT 2026 Gunakan Coretax, Begini Langkah Aktivasi Akun dan Kode Otorisasi DJP

Akar Masalah: Ketergantungan dan Kebutuhan Dolar yang Tinggi

Menurut Indef, pelemahan signifikan Rupiah hingga Rp17.000 per US$ disebabkan oleh beberapa faktor struktural utama yang telah lama menghantui ekonomi Indonesia:

Ketergantungan Impor Bahan Baku: Industri dalam negeri sangat bergantung pada impor bahan baku, menciptakan permintaan Dolar AS yang konsisten dan besar.

Baca Juga: Angin Segar UMKM! Utang Macet Dihapus, Ini Syarat dan Skema Pelunasannya

Diversifikasi Ekspor yang Lemah: Struktur ekspor Indonesia dinilai kurang beragam, membuat neraca perdagangan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Tingginya Kebutuhan Pembiayaan Dolar: Kebutuhan pembiayaan dalam mata uang Dolar untuk utang dan investasi menambah tekanan pada pasar valuta asing.

Baca Juga: Fakta Terbaru, Bencana Longsor Yang Sebabkan Satu Kampung Tertimbun

Belum Efektifnya Penguatan Industri: Upaya untuk memperkuat basis industri dalam negeri dan menekan impor belum menunjukkan hasil yang optimal.

Indef memperingatkan, jika tidak diimbangi dengan koordinasi kebijakan yang kuat antara industri, fiskal, dan moneter, tekanan pada Rupiah di tahun 2026 dapat menjadi penghalang serius bagi stabilitas makroekonomi dan proses transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia.

Pemicu Pelemahan: Eksternal dan Domestik

Indef mengidentifikasi dua sumber tekanan utama yang mendorong pelemahan Rupiah:

1. Tekanan Eksternal (Global)

Pelemahan Rupiah dipengaruhi kuat oleh dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Faktor-faktor seperti ketegangan geopolitik (misalnya di Timur Tengah), perlambatan pertumbuhan ekonomi di China, dan fragmentasi perdagangan internasional, semuanya berkontribusi meningkatkan risk aversion (keengganan mengambil risiko) investor. Sentimen ini secara otomatis menekan mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

2. Tekanan Internal (Domestik)

Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah bersumber dari:

Defisit Neraca Non-Komoditas: Terutama defisit pada perdagangan barang modal.

Ketergantungan Impor: Impor bahan baku manufaktur dan kebutuhan pangan strategis yang tinggi.

Pembiayaan Utang Pemerintah: Kebutuhan pembiayaan utang pemerintah yang juga menambah permintaan terhadap Dolar.

Permintaan Dolar Struktural: Tingginya kebutuhan impor energi akibat pola subsidi energi yang dinilai belum efisien. Hal ini menciptakan structural demand for US$ yang terus menerus menekan posisi Rupiah.

Dampak Negatif Jauh Lebih Dominan dari Sisi Positif

Indef mencatat bahwa meskipun pelemahan Rupiah hingga Rp17.000 per US$ dapat memberikan sedikit implikasi positif berupa peningkatan daya saing harga ekspor bagi sektor manufaktur dan UMKM berorientasi ekspor, efek positif ini dinilai sangat terbatas. Struktur ekspor Indonesia yang masih didominasi komoditas membuat harga jual lebih ditentukan oleh pasar global, bukan oleh penyesuaian nilai tukar domestik.