PT PLN (Persero) sedang mempersiapkan rantai pasok untuk kebutuhan hidrogen hijau di masa depan sebagai bahan bakar alternatif bagi kendaraan ramah lingkungan. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060.
Baca Juga: Langkah Berani KPK Usut Tuntas Skandal Kuota Haji 2024 Seret Yaqut dan Jokowi
Edwin Nugraha Putra, Direktur Utama PLN Indonesia Power, menjelaskan bahwa baru-baru ini PLN meresmikan 21 unit Green Hydrogen Plant (GHP) yang tersebar di seluruh Indonesia di PLTGU Tanjung Priok. Pada bulan Oktober lalu, PLN juga meresmikan GHP pertama di Indonesia di PLTGU Muara Karang.
Menurut Edwin, dengan adanya 21 unit GHP ini, PLN sekarang dapat memproduksi 199 ton hidrogen hijau per tahun, meningkat dari sebelumnya hanya 51 ton hidrogen per tahun. Hidrogen hijau yang dihasilkan dapat mencukupi untuk mengoperasikan 424 mobil selama setahun.
Baca Juga: Strategi Pemkab Kediri Optimalkan Empat Destinasi Wisata Unggulan Dongkrak Pendapatan Daerah
Dari total produksi hidrogen hijau tersebut, sebanyak 75 ton per tahun digunakan untuk kebutuhan operasional pembangkit (pendingin generator). Sementara itu, 124 ton sisanya dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk kendaraan.
Edwin menjelaskan, “Misalnya, kita memproduksi 10, tetapi hanya 3 yang digunakan untuk kebutuhan pembangkit. Sisanya dapat kita manfaatkan untuk mengisi Hydrogen Refuelling Station atau stasiun pengisian ulang hidrogen.”
Dukungan Pembangkit Listrik dan Kendaraan Ramah Lingkungan Menuju Net Zero Emissions 2060
Lebih lanjut, Edwin menyebutkan bahwa GHP milik PLN diproduksi menggunakan sumber daya dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area pembangkit. Selain itu, hidrogen hijau juga menggunakan Renewable Energy Certificate (REC) dari beberapa pembangkit EBT di Indonesia.
“Dengan demikian, kita bisa mengklaim bahwa 21 lokasi ini 100% memproduksi hidrogen hijau,” tambahnya.