Melihat fakta seperti itu akhirnya muncul beragam persepsi dari masyarakat setempat. Diantaranya dianggap pengerjaan proyek pemerintah tersebut terkesan asal asalan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pemilihan lokasi prembangunan tidak melalui kajian tata ruang secara propesional.
” Kalau untuk saluran irigasi tersier jelas salah. Karena disebelah selatan tidak ada saluran sekunder. Dan jika difungsikan untuk saluran pembuangan kenapa tidak membuat saluran ke sungai patusan yang ada di sebelah utara. Ini hanya menghambur hamburkan uang negara,” terang Arif Rahman.

Dengan tidak jelasnya fungsi bangunan itu masih kata Arif Rahman semestinya dari tim pengawas proyek BKK APBD dari PMD dan BKAD Kabupaten Nganjuk turun tangan. Jangan ada kesan cuci tangan.
” Janggalnya lagi, kenapa pengerjaanya drainase hanya satu titik sisi barat saja. Padahal dalam prasasti tercatat jelas kanan kiri. Kalau begitu bisa diindikasikan ada dugaan mall kontruksi,” tandasnya juga.
Lebih ekstremnya lagi masih kata Arif Rahman dengan adanya indikasi gagalnya perencanaan dan pelaksanaan berakibat fatal yaitu menghambur hamburkan uang negara tanpa mempetimbangkan asas manfaatnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah, Begini Tanggapan Ketua DPD LDII Nganjuk.......
Sementara itu saat wartawan memo.co.id menghubungi Kepala Desa Ngringin , Ika Agustina lewat nomor WhatsApp nya tidak bersedia memberikan keterangan apapun.
” Kalau ingin keterangan Monggo ketemu di kantor desa saja jangan lewat telpon,” papar Ika Agustina singkat. ( Adi)












