La Noti, yang dicari seharian, ditemukan. Namun, bukan lagi dengan senyum sapa, melainkan dalam kondisi yang tak terperi. Sebuah akhir yang tragis bagi perjuangan hidupnya sebagai petani.
Ancaman yang Kian Nyata: Ketika Mangsa Alami Mulai Langka
Tragedi ini menjadi pukulan telak bagi warga Buton Selatan. Selama ini, serangan ular piton memang bukan hal asing, tetapi korbannya selalu hewan ternak. Kasus kematian La Noti adalah yang pertama kali menimpa manusia di wilayah ini, seperti dikonfirmasi oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Buton Selatan, La Ode Risawal.
“Belum pernah ada kejadian serangan ular yang membuat warga tewas,” katanya.
Namun, ia tak menampik bahwa kemunculan ular piton di permukiman dan kebun warga semakin sering. Dalam beberapa bulan terakhir saja, sudah ada sepuluh kali penampakan ular dan beberapa kasus ternak yang hilang. Data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra turut menguatkan kekhawatiran ini.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sultra, La Ode Kaida, mengungkapkan bahwa serangan ular di Sulawesi Tenggara terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Bahkan, pada 2023, seorang petani di Konawe Selatan tewas dililit piton, dan setahun setelah itu, seorang warga terluka parah dalam insiden serupa.
Menurut Kaida, peningkatan serangan ini mengindikasikan adanya gangguan terhadap ruang gerak ular dan berkurangnya mangsa alami di hutan. Ular piton, yang umumnya keluar sarang untuk berburu, akan menyerang apa saja yang ditemukan jika kelaparan.
“Kalau kejadian terus berulang, bisa saja mangsa alami ular mulai berkurang dan terjadinya pembukaan kawasan yang mengganggu ruang jelajah ular tersebut,” jelas Kaida. Ia juga menyoroti kematian babi hutan dalam jumlah besar baru-baru ini yang bisa menjadi pemicu, ditambah pergantian musim yang membuat ular semakin aktif.
Kematian La Noti adalah pengingat yang pahit: bahaya tak terduga mengintai di sekitar kita. Kaida mengimbau warga untuk selalu waspada, tidak berkebun atau masuk hutan seorang diri, dan segera mencari pertolongan jika diserang.
Kini, di setiap langkah di kebun atau hutan, bayangan perut raksasa itu mungkin akan selalu menghantui, mengingatkan akan kerapuhan hidup di hadapan alam yang bisa tiba-tiba menunjukkan sisi paling brutalnya.












