Blitar, memo.co.id
Tradisi tanpa pelajaran. Kalimat itu terasa pahit, tapi nyata. Di saat gema takbir masih menggantung di langit Idul Fitri, sebagian warga justru kembali mengulang cerita lama: pesta mercon yang berujung ricuh.
Peristiwa itu terjadi di Jalan Seruni, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Sabtu pagi. Bukannya merayakan hari kemenangan dengan khidmat, sekelompok warga justru menggelar pesta petasan di tengah jalan, menggunakan berbagai ukuran mercon yang membahayakan.
Baca Juga: PKK Rejotangan Dorong Ketahanan Keluarga, Soroti Lonjakan Perceraian di Tulungagung
Ironisnya, lokasi yang dipilih adalah fasilitas umum—akses jalan warga—yang seharusnya steril dari aktivitas berisiko tinggi.
Kondisi ini sontak memicu keresahan. Warga yang terganggu akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Baca Juga: Mantan Wabup Blitar Jadi Korban Penipuan, Terpidana Mulia Wiryanto jadi Buron
Tak berselang lama, anggota Polres Blitar datang ke lokasi dan berupaya mengamankan situasi. Sejumlah barang bukti berupa petasan dalam jumlah besar—bahkan disebut mencapai setengah karung—diamankan sebelum sempat disulut.
Namun, langkah aparat justru memantik perlawanan.
Baca Juga: Tinggalkan Kendaraan Bermotor, PUPR Blitar Bangun Budaya Kerja Ramah Lingkungan
Alih-alih kooperatif, sebagian warga yang terlibat pesta mercon malah tersulut emosi. Adu mulut tak terhindarkan. Situasi memanas, hingga berujung dorongan fisik dan hujatan terhadap petugas.
Bahkan, seorang pria tak dikenal secara terang-terangan menantang aparat.
“Buka baju, kalau berani sekalian kelahi sekalian,” teriaknya, seperti terekam dalam video yang beredar.
Situasi yang semakin tak kondusif memaksa petugas mengambil langkah cepat. Sisa petasan yang berpotensi meledak akhirnya dibuang ke sungai terdekat untuk menghindari risiko ledakan.












