NGANJUK, MEMO – Setelah munculnya pemberitaan tentang belum dibangunnya gapura perbatasan antar kabupaten ( Nganjuk – Kediri ) yang ada di Desa Gondanglegi, Prambon tampaknya jadi tranding topik di jejaring medsos.
Beragam tanggapan dan sindiran dari warga netizen mulai ramai bermunculan di Instagram, Facebook, Twitter dan di grup grup WhatsApp.

Salah satu kalimat sindiran yang sedikit nylekit adalah di tingkat dusun dan desa saja mampu membangun gapura perbatasan, kenapa daerah tidak mampu. Apa APBD memang defisit tidak mampu bangun gapura ?.
” Sindiran itu tidak salah memang benar. Setiap memasuki wilayah perbatasan antar kecamatan dan desa di Kabupaten Nganjuk banyak ditandai dengan gapura selamat jalan dan semat datang,” terang Mbah Kamto salah satu anggota Komisi 1 DPRD Nganjuk.

Uniknya lagi masih dikatakan Mbah Kamto , tidak seluruh gapura perbatasan antar desa dan kecamatan tersebut dibangun menggunakan uang negara. Ada yang dibangun dengan menggunakan dana swadaya.
Seperti gapura perbatasan antar desa di Desa Tirtobinangun Kecamatan Patianrowo dengan Desa Begendeng Kecamatan Jatikalen ternyata tidak menyerap uang negara ( Dana Desa). Tapi dibiayai menggunakan uang pribadi.

Kedengarannya aneh, tapi itu real adanya. Dijelaskan Mbah Kamto , gapura bermotif gaya mojopahitan bertuliskan ” Masuk Bumi Tirtobinangun” tersebut dibangun sejak satu tahun lalu itu menelan anggaran tidak sedikit.
Ditanya wartawan kenapa harus dibiayai sendiri ?. Menurut pengakuan politikus Partai Gerindra ini bahwa itu wujud pengabdiannya kepada desa dan masyarakat.

” Pembangunan gapura perbatasan antar desa selain penting untuk mengetahui titik batas wilayah desa juga bagian dari potret kewibawaan pemerintahan desa itu sendiri,” ujarnya.
Dari hasil pantauan wartawan memo.co.id, gapura swadaya itu terkesan eksotis. Karena di dua sisi gapura di lengkapi ornamen klasik seperti patung dua petani, tokoh wayang semar dan gentong berukuran besar bertuliskan huruf honocoroko.

” Patung dua petani melambangkan bahwa desa tirtobinangun adalah sentra tanaman padi. Sedangkan lambang Semar simbol pemimpin desa yang amanah. Sementara gentong besar wadah air adalah lambang sumber kehidupan,” papar Mbah Kamto yang sudah mengabdikan dirinya sebagai wakil rakyat sudah tiga periode itu.
Untuk diketahui, selain gapura perbatasan antar desa di Desa Tirtobinangun, Patianrowo masih banyak ditemukan puluhan gapura perbatasan antar desa dan kecamatan di 20 kecamatan di Kabupaten Nganjuk. Meskipun ada yang sudah waktunya untuk dilakukan perbaikan ( rehab ) karena termakan usia, namun hal patut mendapat apresiasi karena sadar wilayah. ( Adi)












