Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Blitar

Empat Tahun Bodrex, Dari Kegelisahan Warga Ngrebo Blitar Jadi Gerakan Sosial dan Keagamaan

Prawoto Sadewo
×

Empat Tahun Bodrex, Dari Kegelisahan Warga Ngrebo Blitar Jadi Gerakan Sosial dan Keagamaan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260927 WA0008

Blitar, Memo.co.id
Suasana berbeda terasa di tengah masyarakat Ngrebo pada Sabtu malam, 26 September 2026. Panggung megah dengan layar videotron berdiri menjadi pusat perhatian warga dalam gelaran pengajian dan Sholawat Akbar yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus ulang tahun keempat organisasi kemasyarakatan dan keagamaan Bodrex.

Dalam kegiatan tersebut, pengajian dan sholawatan menghadirkan Gus Farid Ahmad dari Kuningan, Blitar, yang dikenal masyarakat melalui tradisi dan lantunan Sholawat Sor Jambu.

Kehadiran Gus Farid Ahmad turut memberikan warna tersendiri dalam rangkaian acara. Lantunan sholawat dan pengajian menjadi bagian dari ikhtiar Bodrex untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremoni, tetapi juga ruang berkumpul dan mempererat silaturahmi masyarakat.

Bukan sekadar perayaan ulang tahun. Empat tahun perjalanan Bodrex justru coba ditampilkan sebagai perjalanan sekelompok warga yang ingin mencari ruang untuk berbuat, belajar, dan memberi manfaat di tengah masyarakat.

Bodrex lahir dari kegelisahan masyarakat dengan latar belakang dan usia yang beragam. Mereka tidak mengklaim sebagai kumpulan manusia yang sempurna.

Sebaliknya, para anggotanya membawa kesadaran bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan masa lalu masing-masing. Dari kesadaran itulah Bodrex mencoba membangun semangat untuk terus belajar menjadi lebih baik.

Kegiatan sosial menjadi salah satu bentuk nyata keberadaan mereka.

Setiap malam Jumat, misalnya, anggota Bodrex rutin melakukan kegiatan bersih-bersih masjid. Masjid Baitul Halim menjadi salah satu tempat yang kerap menjadi sasaran pengabdian, mulai dari menyapu, mengepel hingga mencuci karpet masjid.

Tidak berhenti di lingkungan masjid, Bodrex juga berusaha hadir ketika masyarakat membutuhkan tenaga.

Dalam kerja bakti lingkungan, anggota Bodrex berupaya tampil membantu. Ketika ada warga meninggal dunia, mereka juga ikut bergerak, baik melalui tenaga maupun dukungan finansial yang dikumpulkan secara gotong royong.

Semangat tersebut menjadi bagian dari filosofi yang ingin dibangun Bodrex. Organisasi itu tidak ingin keberadaannya hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berusaha menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat.

“Kami menyadari bahwa kami bukan orang-orang yang sempurna. Kami juga masih terus belajar untuk menjadi lebih baik. Karena itu, Bodrex kami bentuk agar keberadaan kami bisa berguna bagi masyarakat dan umat,” ujar Endro, Panglima Bodrex.

Menurutnya, perjalanan empat tahun Bodrex tidak mungkin dilepaskan dari kekompakan anggota dan dukungan masyarakat.

Hal itu pula yang membuat Bodrex mampu menggelar pengajian sekaligus Sholawat Akbar dengan konsep yang cukup besar. Panggung megah dan videotron menjadi bagian dari kemasan acara yang sekaligus menjadi momentum mempertemukan masyarakat dalam suasana religius dan kebersamaan.

“Kami bisa menggelar pengajian sebesar ini semata-mata karena kekompakan dan kebersamaan anggota. Selain itu juga karena bantuan para dermawan yang selama ini peduli terhadap kiprah Bodrex,” kata Endro.

Ia berharap, keberadaan Bodrex ke depan tidak hanya dikenal karena kegiatan pengajian atau sholawatan. Lebih jauh, Bodrex ingin terus memperkuat kegiatan sosial yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Filosofi Bodrex adalah bagaimana keberadaan kami bisa ikut mengurangi problematika kemasyarakatan. Terutama melalui bakti sosial di berbagai bidang,” tegasnya.

Menariknya, perayaan ulang tahun keempat tersebut juga tidak hanya menyuguhkan tausiyah dan lantunan sholawat.

Bodrex turut membagikan ratusan doorprize kepada masyarakat yang hadir. Khususnya para ibu yang mengikuti acara dengan duduk di atas karpet yang telah disiapkan panitia.

Ratusan hadiah tersebut bahkan ditempatkan dan digantung di sekitar area tempat duduk, sehingga peserta dapat mengambil hadiah sesuai mekanisme yang telah disiapkan panitia.

Suasana semakin meriah ketika tokoh agama dan tokoh masyarakat dari lingkungan Ngrebo serta warga sekitar turut hadir. Pengajian dan Sholawat Akbar bersama Gus Farid Ahmad pun menjadi ruang silaturahmi sekaligus pertemuan lintas latar belakang masyarakat.

Bagi Bodrex, empat tahun bukan sekadar angka usia organisasi.

Ada pekerjaan sosial yang sudah dilakukan, ada kekompakan yang dipertahankan, dan ada keinginan untuk terus memperbaiki diri. Dari membersihkan masjid, membantu warga yang tertimpa musibah, hingga bergotong royong dalam kegiatan lingkungan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan para dermawan yang selama ini membantu kegiatan Bodrex. Di usia yang baru empat tahun, kami bersyukur bisa menggelar pengajian dan Sholawat Akbar seperti ini,” pungkas Endro.

Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, Bodrex mencoba mengambil jalan sederhana: hadir ketika dibutuhkan, bekerja ketika ada yang harus dikerjakan, dan terus belajar agar keberadaannya tidak sekadar terlihat, tetapi benar-benar terasa manfaatnya.