“Peristiwa ini menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan mempengaruhi prospek suku bunga The Fed,” ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.950 sampai Rp15.100 per dolar AS pada hari ini.
Baca Juga: Sekolah Negeri Dituntut Berinovasi di Tengah Persaingan dengan Lembaga Swasta
Perkiraan Naiknya Imbal Hasil Obligasi AS Mempengaruhi Pelemahan Rupiah dan Mata Uang Asia
Pelemahan rupiah dan mata uang Asia mayoritas menyusul dibukanya perdagangan pasar spot pada Jumat (28/7). Rupiah mengalami penurunan sebesar 76 poin atau 0,51 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya, sedangkan sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan.
Rupee India dan yen Jepang menjadi pengecualian dengan sedikit penguatan, sementara dolar Singapura stagnan. Mata uang utama dari negara-negara maju juga menghadapi situasi serupa dengan mayoritas melemah. Analisis dari Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong, menyoroti bahwa rupiah berpotensi terus melemah akibat naiknya imbal hasil obligasi AS dan prospek suku bunga The Fed yang mempengaruhi pasar.
Baca Juga: KPK Turun Langsung, Cek Proyek hingga Kumpulkan Pejabat Blitar Secara Tertutup
Prediksinya menempatkan kisaran pergerakan rupiah pada level Rp14.950 hingga Rp15.100 per dolar AS. Dengan kondisi ini, investor dan pelaku pasar perlu mewaspadai pergerakan mata uang untuk mengantisipasi dampaknya pada aktivitas perdagangan dan investasi di wilayah Asia.












