Keempat, infrastruktur kehidupan sosial yang melibatkan ruang publik dan semi-publik yang mendukung interaksi sosial, seperti taman, perpustakaan, dan fasilitas serupa.
Berdasarkan empat konteks tersebut, menurut Akhmad, makan siang gratis lebih tepat dikategorikan sebagai contoh program untuk mengatasi masalah stunting dalam isu kesehatan yang termasuk dalam infrastruktur perawatan sosial.
Baca Juga: Diakui IPSI, M. Taufiq Sah Pimpin PSHT, Blitar Serukan Soliditas Nasional
Akhmad berpendapat bahwa Gibran mungkin tidak sepenuhnya memahami konsep infrastruktur sosial. Namun, sebagai seorang politisi, ia menyampaikan apa yang bisa dia sampaikan, terutama yang berkaitan dengan program makan siang gratis.
Hal ini juga disetujui oleh Peneliti ekonomi digital Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, yang juga menyatakan bahwa makan siang gratis sebenarnya bukanlah infrastruktur sosial, melainkan lebih cenderung sebagai bantuan sosial (bansos) karena bukan berupa aset.
Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum
Nailul menjelaskan bahwa infrastruktur sosial sebenarnya lebih berkaitan dengan program-program yang meningkatkan kondisi sosial masyarakat, seperti pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, status program makan siang gratis sebagai bagian dari infrastruktur sosial layak dipertanyakan karena sifatnya sebagai program, bukan aset.
Ia juga menegaskan bahwa makan siang gratis adalah program bantuan sosial yang habis pakai, dan bukan bagian dari infrastruktur sosial secara langsung.
Kontroversi Infrastruktur Sosial: Makan Siang Gratis dalam Sorotan












