Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Blitar

Lewat Grup WhatsApp, Komite SMKN 1 Doko Diduga Lancarkan Aksi Monopoli Seragam

Prawoto Sadewo
×

Lewat Grup WhatsApp, Komite SMKN 1 Doko Diduga Lancarkan Aksi Monopoli Seragam

Sebarkan artikel ini
Screenshot 20260714 152434 WhatsApp
Tangkapan layar grup whatsapp yang diduga mengkoordinir siswa baru SMKN 1 Doko untuk membeli seragam di toko tertentu.

Blitar, Memo.co.id

Titah Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, terdengar nyaring dan tanpa kompromi saat disuarakan di gedung negara: lingkungan SMA/SMK Negeri, termasuk komite sekolah, diharamkan keras menjual kain seragam.

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

Kebijakan ini lahir sebagai respons atas jeritan wali murid yang saban tahun diperas oleh bisnis berkedok koperasi sekolah. Namun, di lapangan, aturan tinggal aturan. Di tangan oknum-oknum sekolah yang kreatif berburu cuan, larangan tersebut mental lewat taktik “lempar batu sembunyi tangan.”

Modusnya kini bergeser. Jika dulu sekolah terang-terangan membuka lapak di dalam kelas, kini mereka “menitipkan” bisnisnya ke toko-toko seragam di luar pagar sekolah. Ironisnya, jejaring gurita bisnis ini diduga kuat dikendalikan oleh satu pengusaha yang sama, memanfaatkan kedekatan geografis dan relasi kuasa antara guru-komite dengan para siswa baru.

Toko “di depan” yang dimaksud bukanlah kebetulan. Penelusuran di lapangan menunjukkan toko seragam tersebut berada di radius yang sangat dekat dengan sekolah. Kecurigaan publik makin menebal karena toko dengan nama dan pemilik yang sama juga “kebetulan” berdiri kokoh di dekat beberapa sekolah negeri lain di wilayah Blitar. Sebuah monopoli bisnis yang rapi, yang mustahil berjalan mulus tanpa ada lampu hijau atau “kerja sama” di bawah meja.

Grup WhatsApp dan Alibi Klasik Komite SMKN 1 Doko

Tali-temali bisnis seragam ini polanya makin benderang jika melihat apa yang terjadi di SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar. Modusnya setali tiga uang: mengarahkan siswa ke satu toko yang sama. Di SMKN 1 Doko, aktor intelektualnya diduga digerakkan oleh tangan-tangan gurita Komite Sekolah.

Demi memastikan target “penjualan” tercapai, oknum komite bertindak agresif. Mereka nekat membuat grup WhatsApp khusus yang berisi informasi pembelian seragam. Beberapa anggota komite bahkan kedapatan menjadi admin dan secara masif membombardir grup siswa baru dengan pengumuman wajib beli di toko rekanan tersebut.

Saat dikonfirmasi, Ketua Komite SMKN 1 Doko, Agung Nindyo, langsung memasang jurus klasiknya: mengaku tak tahu-menahu.

“Kalau soal grup WhatsApp, saya gak paham. Intinya semua bebas mau beli seragam di mana saja, gak beli juga gak apa-apa,” kilah Agung, mencoba mencuci tangan dari bukti digital yang beredar.

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini