Setiap tahun, Peternakan BBS menyiapkan antara 800 hingga 1.000 ekor sapi untuk kebutuhan Idul Adha. Tahun ini, menjelang H-9 Idul Adha, lebih dari 80 persen dari total 1.000 sapi telah terjual. Fenomena menarik lainnya, jika dulu hanya sekitar 10 ekor sapi jumbo yang terjual, kini angkanya melonjak hingga lebih dari 80 ekor. Sapi-sapi unggul ini dirawat selama 11 bulan, sementara sapi berukuran kecil dipelihara 2-3 bulan saja.
Ragam Jenis Sapi dan Strategi Pemasaran
Peternakan BBS menyediakan beragam jenis sapi, mulai dari simmental, limosin, peranakan ongole (PO), pegon, brahman cross (BX), Bali, Kupang, hingga Madura. “Adapun sumber yang kami dapat dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Bali, NTT (Nusa Tenggara Timur). Hampir semua jenis ada di sini,” kata Jupri.
Pelanggan cenderung paling banyak mencari sapi Bali, Kupang, atau pegon yang menawarkan harga ekonomis, berkisar antara Rp25 juta hingga Rp28 juta untuk ukuran terkecil 280 kilogram. Sementara itu, harga sapi tertinggi di BBS bisa mencapai Rp115 juta dengan berat lebih dari 1 ton.
Perawatan dan pemberian pakan di BBS cukup normatif, meliputi memandikan sapi satu per satu dan memberikan pakan seperti onggok, comboran, ampas tahu, dedak, hingga jerami, dengan rutinitas 5-6 kali makan per hari.
Baca Juga: Hijaukan Ruang Sempit, Cuan Mengalir Deras, Kisah Sukses Panen Microgreen di Tengah Ibu Kota
Harapan Masa Depan dan Edukasi Bisnis
Melalui Peternakan BBS, Jupri berharap dapat terus meningkatkan pendapatan, membantu 30 anak muda yang bekerja di sana agar mereka sejahtera, dan memberikan edukasi kepada masyarakat luas bahwa bisnis sapi sangat menguntungkan.
“Awal mula kami berdiri, kami cuma punya modal Rp20 juta. 20 tahun kami berdiri, aset kami dalam bentuk barang bergerak, yaitu ada tanah, Rp80 miliar. Artinya, saya mau menunjukkan ke teman-teman, ke mahasiswa khususnya, kalau bisnis ini profitable, ini bisnis yang menjanjikan,” pungkas Jupri, menegaskan bahwa investasi peternakan adalah pilihan yang menjanjikan.












