Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
BLITAR

Janji Manis DPRD dan PT KSPP Berbuah Busuk, 400 Warga Blitar Selatan Menggugat

Prawoto Sadewo
×

Janji Manis DPRD dan PT KSPP Berbuah Busuk, 400 Warga Blitar Selatan Menggugat

Sebarkan artikel ini

BLITAR, memo.co.id
Bau busuk dan air sungai berwarna kehitaman kini jadi pemandangan sehari-hari bagi warga Desa Gununggede, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Bukan karena musim kemarau atau limbah rumah tangga, tapi akibat limbah peternakan sapi milik PT Karya Suci Putra Prasetya (KSPP) yang disebut warga telah mencemari aliran sungai hingga ke tiga dusun sekaligus: Krajan, Kenongo, dan Kali Kuning.

Kesabaran warga akhirnya mencapai titik didih. M. Tyson, Ketua Grib Jaya DPC Blitar Raya, yang juga mewakili aspirasi masyarakat, menegaskan bahwa warga siap menggelar aksi besar-besaran jika pemerintah dan DPRD tak segera turun tangan menindak tegas perusahaan tersebut.

Baca Juga: Renovasi Istana Gebang Rampung, Diresmikan Langsung Megawati

“Banyak laporan masyarakat terkait pengolahan limbah yang mengakibatkan pencemaran lingkungan, khususnya di sungai yang jadi sumber air warga. Sudah satu bulan lebih sejak hearing dengan Komisi III DPRD dan dinas terkait, tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata sama sekali,” tegas Tyson dengan nada geram, Jumat (7/11/2025).

Tyson menyebut, dari hasil kesepakatan sebelumnya, pihak perusahaan diberi waktu satu bulan untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbahnya. Namun, janji itu hanyalah omong kosong di atas kertas.

Baca Juga: Uji Mental dan Tanggung Jawab, Ratusan Calon Warga PSHT Blitar Jalani Prosesi Tes Jago

“Kami sudah beri waktu. Kalau satu bulan tidak ada perkembangan, kami akan tempuh jalur hukum. Ini sudah lewat satu bulan, warga sudah kumpulkan lebih dari 400 tanda tangan untuk menuntut tindakan nyata dari peternakan. Kalau terus dibiarkan, kami siap turun ke jalan!” ujarnya lantang.

Warga yang dulunya memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci kini hanya bisa mengelus dada. Air yang dulunya jernih berubah menjadi keruh pekat dengan bau menyengat menusuk hidung. Sejumlah ikan mati, dan anak-anak dilarang mendekat ke sungai karena khawatir terkena penyakit kulit.

Baca Juga: Program MBG dan KDMP Diprotes, Warga Blitar Siapkan Aksi Kain Putih 100 Meter

Salah satu perwakilan warga, Udin, mengungkapkan hasil temuan di lapangan yang dianggap mencolok.

“Kami sudah tinjau lokasi bersama warga. Hasilnya banyak pelanggaran yang tidak bisa ditutupi. Peternakan sapi perah itu jumlah sapinya sekitar 680 ekor, tapi pengelolaan limbahnya semrawut. Limbah cairnya dialirkan begitu saja dari bak penampungan melalui pipa langsung ke sungai,” ujar Udin kesal.

“Tiga dusun terdampak. Hampir satu desa mencium bau busuk itu tiap hari. Warga sudah muak!” imbuhnya.

Sebelumnya, Komisi III DPRD Kabupaten Blitar sempat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi peternakan setelah menerima aduan dari warga. Ketua Komisi III, Sugianto, kala itu mengakui bahwa pengelolaan limbah di PT KSPP belum berjalan optimal.

“Kondisi di lapangan menunjukkan pengelolaan limbah masih jauh dari harapan,” ujar Sugianto saat itu.

“Kami beri waktu satu bulan bagi perusahaan untuk memperbaiki sistemnya. Jika tidak ada progres, kami akan ambil langkah lanjut, bisa mediasi atau bahkan penghentian sementara operasional,” tandasnya.

Namun kini, satu bulan lebih berlalu, janji Komisi III itu tinggal pepesan kosong. Tidak ada tanda-tanda tindak lanjut, apalagi sanksi. Warga menilai DPRD dan dinas lingkungan hidup seolah tutup mata dan telinga.

“Komisi III jangan cuma pandai ngomong di ruang rapat. Kalau sudah tahu ada pencemaran, ya tindak dong! Jangan nunggu warga ngamuk dulu baru bergerak!” sindir Tyson dengan nada tajam.

Sementara itu, perwakilan PT KSPP, Andri, mencoba meredam polemik dengan menyatakan bahwa pihaknya tengah berupaya melakukan perbaikan.

“Kami akui pengelolaan limbah masih belum sempurna. Tapi kami sudah melakukan langkah koreksi diri. Saat ini perusahaan menunggu kedatangan separator limbah yang masih dalam proses pemesanan,” ujarnya singkat.

Sayangnya, janji itu bagi warga hanya terdengar seperti lagu lama. Warga tak ingin sekadar mendengar rencana tanpa bukti nyata di lapangan.

“Perusahaan boleh janji seribu kali, tapi selama air sungai masih bau busuk dan warga tetap menderita, kami akan terus bersuara!” pungkas Tyson.