Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
KEDIRI RAYA

Jalan Teratai Mayaran Kediri: Ketika Arteri Desa Tersumbat Proyek Tol, Wargapun Berteriak

A. Daroini
×

Jalan Teratai Mayaran Kediri: Ketika Arteri Desa Tersumbat Proyek Tol, Wargapun Berteriak

Sebarkan artikel ini
Ketika Arteri Desa Tersumbat Proyek Tol, Wargapun Berteriak

KEDIRI, memo.co.id – Di Desa Manyaran, Kabupaten Kediri, sebuah jalan kecil bernama Teratai telah lama menjadi lebih dari sekadar jalur penghubung. Ia adalah nadi kehidupan, jalur vital yang menghubungkan Dusun Kasihan dengan hiruk pikuk Kota Kediri.

Namun, pada Senin (16/6/2025), nadi itu terputus. Proyek ambisius Jalan Tol Kediri–Tulungagung membentang, dan penutupan Jalan Teratai pun tak terhindarkan. Akibatnya, puluhan warga turun ke jalan, menyuarakan protes yang resonansinya terasa hingga ke pusat kota.

Baca Juga: Perkemahan Wirakarya Jatim 2026 Hadir di Kediri Pramuka Lakukan Renovasi Tiga Rumah Warga

Spanduk-spanduk sederhana yang dibentangkan warga memuat keluh kesah yang mendalam. Mereka bukan hanya memprotes penutupan fisik sebuah jalan, melainkan dampak berantai yang menjalar ke setiap sendi kehidupan. Akses ke Kota Kediri yang semula singkat, kini harus ditempuh dengan memutar.

Suparmin, Koordinator Aksi, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Penutupan ini sangat merugikan. Warung-warung sepi, akses anak ke sekolah jadi jauh. Biasanya cukup 1 liter bensin, sekarang bisa habis 1,5 liter karena harus memutar lebih jauh,” ujarnya, suaranya sarat keprihatinan.

Baca Juga: Vonis Empat Tahun Penjara bagi Penganiaya Balita di Ngronggo Kediri Ini Alasan Hakim

Sebuah liter bensin tambahan mungkin terdengar sepele, namun bagi kantong-kantong masyarakat, itu adalah biaya ekstra yang tak terduga, menggerogoti pendapatan harian.

Anak-anak sekolah yang biasanya bisa melenggang cepat ke sekolah, kini harus menempuh perjalanan yang lebih jauh, memakan waktu dan menguras energi. Ekonomi lokal, yang sebagian besar bergantung pada mobilitas warga menuju kota, juga lesu.

Baca Juga: Aturan Baru Pilkades Kediri 2026 Akomodasi Calon Tunggal Bumbung Kosong Bisa Menang

Warung-warung yang dulunya ramai, kini sepi pembeli karena akses yang terhambat. Ini adalah gambaran nyata bagaimana pembangunan infrastruktur, jika tidak diimbangi dengan solusi yang matang, dapat menjadi pisau bermata dua.

Warga tak hanya berteriak, mereka juga menawarkan solusi. Desakan untuk segera disiapkan jalur alternatif atau setidaknya membuka kembali jalan sementara menjadi tuntutan utama. Mereka berharap pemerintah dapat mencari jalan tengah. Suparmin bahkan berandai, jika pembangunan terowongan tidak memungkinkan, maka jalur pengganti sebaiknya dibuat di sisi selatan tol, menghindari permukiman padat di Kampung Wonosari di utara.

Harapan itu seakan mendapat angin segar. Kepala Desa Manyaran, Budiharjo, mengungkapkan hasil mediasi awal antara warga dan pihak pelaksana proyek. Sebuah kesepakatan sementara tercapai: akses jalan akan dibuka kembali, sembari menunggu keputusan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kediri.

“Ada kesepakatan sementara agar jalan dibuka sambil menunggu keputusan dari Pemkab. Termasuk rencana pembangunan terowongan atau jembatan layang juga masih dalam tahap musyawarah,” kata Budiharjo, memberikan secercah harapan di tengah ketidakpastian.

Namun, urusan tak berhenti di akses jalan. Warga juga menyampaikan tuntutan lain yang menunjukkan perhatian mereka terhadap kualitas hidup.

Mereka meminta pembatasan jam kerja proyek maksimal hingga pukul 22.00 WIB, serta kewajiban membersihkan jalan setiap selesai aktivitas proyek. Ini bukan hanya tentang jalur penghubung, tetapi juga tentang kenyamanan, ketenangan, dan kebersihan lingkungan tempat mereka tinggal.

Kisah Jalan Teratai dan protes warga Manyaran adalah cerminan dari kompleksitas pembangunan. Di satu sisi, ada kebutuhan akan infrastruktur modern. Di sisi lain, ada kehidupan masyarakat yang harus terus berjalan.

Mencari keseimbangan antara keduanya adalah tantangan besar, dan suara-suara dari Dusun Kasihan ini menjadi pengingat penting bagi para pemangku kebijakan.