Kapasitas ART mencapai 324 penumpang, dengan kecepatan operasional sekitar 40 km/jam dan maksimal 70 km/jam.
Teknologi Rel Virtual dan Kecepatan 70 km/jam, ART Merajai Kota-kota Besar
Lebih lanjut, Budi Karya menyampaikan bahwa kereta otonom ini terdiri dari satu rangkaian kereta dengan tiga gerbong, mampu menampung hingga 300 penumpang. Dengan dibangunnya ART tanpa menggunakan rel konvensional, melainkan rel virtual, diharapkan ART ini akan menjadi salah satu pilihan transportasi unggulan dan berpotensi menjadi moda transportasi masa depan di kota-kota besar di Indonesia.
Baca Juga: Sekolah Negeri Dituntut Berinovasi di Tengah Persaingan dengan Lembaga Swasta
Melalui proyek ini, Budi Karya berharap bahwa Indonesia dapat menjadi negara pertama di luar China yang memiliki ART. Menteri Perhubungan juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan kereta canggih ini. Ia menegaskan bahwa proyek ini dapat diadopsi dan direplikasi di kota-kota besar lainnya di Indonesia.
ART: Masa Depan Transportasi Indonesia yang Terwujud dari Kerja Sama China
Dalam mengejar cita-cita menjadi pemimpin di bidang transportasi, Indonesia melalui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, telah mengamankan kereta canggih tanpa rel, ART, dari China. Proyek ini, yang terfokus pada Ibu Kota Nusantara (IKN), menjanjikan moda transportasi masa depan dengan kapasitas besar, kecepatan operasional tinggi, dan kemungkinan replikasi di kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Baca Juga: KPK Turun Langsung, Cek Proyek hingga Kumpulkan Pejabat Blitar Secara Tertutup
Dengan ART, Indonesia bersiap untuk melangkah sebagai negara pionir di luar China dalam mewujudkan sistem transportasi inovatif.












