Para analis menjelaskan bahwa kenaikan harga ini didorong oleh penurunan persediaan minyak dan produk olahannya di berbagai pusat perdagangan global, termasuk di AS, Amsterdam, dan Singapura. Di pusat perdagangan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp di Eropa, misalnya, stok bensin turun 7,5 persen dalam sepekan yang berakhir pada Kamis, 16 Mei, menurut data dari konsultan Insights Global.
Penurunan stok ini memicu optimisme pasar bahwa permintaan minyak akan tetap kuat ke depannya, sehingga mendukung kenaikan harga. Selain itu, penguatan harga minyak baru-baru ini juga didukung oleh data inflasi di AS yang lebih rendah dari perkiraan pasar.
Baca Juga: Daftar Lengkap 27 Pejabat Tulungagung Diperiksa KPK Terkait Skandal Aliran Dana Pemerasan
Data inflasi yang lebih lemah ini meningkatkan harapan pasar bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga acuan lebih cepat. Penurunan suku bunga ini dapat melemahkan dolar AS, yang pada gilirannya membuat minyak lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Hal ini tentu saja berdampak pada peningkatan permintaan minyak.
Optimisme Pasar Mendorong Kenaikan Harga Minyak
Kenaikan harga minyak baru-baru ini mencerminkan optimisme pasar terhadap permintaan minyak yang kuat. Penurunan stok di pusat perdagangan utama seperti AS, Amsterdam, dan Singapura menunjukkan bahwa permintaan minyak tetap tinggi, sementara pasokan mulai menipis. Hal ini mengindikasikan prospek positif untuk harga minyak ke depannya.
Baca Juga: Kabar Gembira Mei 2026: Intip Rincian Gaji dan Tunjangan Pensiunan PNS Golongan IIIb












