“Sehari rata-rata habis sekitar 50 butir kelapa. Pembeli itu tetap ada, malah ramai bahkan biasa sampai kurang,” ujarnya.
Ia menilai, kebutuhan masyarakat terhadap kelapa cukup stabil, sehingga meskipun harga mahal, konsumen tetap mencari. “Masyarakat itu tetap beli, mungkin karena kebutuhan makanya tetap dicari meskipun harga mahal,” tambahnya.
Tak hanya mengandalkan pasokan dari petani lain, Nafsiah juga memiliki kebun kelapa sendiri. Namun, hasil panen dari kebunnya pun mengalami penurunan drastis.
“Saya juga punya kebun sendiri, kelapa itu yang biasa panen 400 biji sekarang tinggal 70 biji,” terang Nafsiah, menggambarkan kondisi kelapa yang semakin sulit didapatkan.












