Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Harga Cabai Meroket Jelang Ramadan

Avatar
×

Harga Cabai Meroket Jelang Ramadan

Sebarkan artikel ini

MEMO – Jelang bulan Ramadan 2025, harga cabai di pasar tradisional Kota Solo mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Di Pasar Legi Solo, harga cabai rawit merah yang sebelumnya sekitar Rp70 ribu per kilogram kini melonjak tajam menjadi Rp90 ribu per kilogram.

Namun, harga beberapa jenis cabai lainnya tetap stabil. Cabai merah besar dan cabai tampar dijual dengan harga sekitar Rp45 ribu per kilogram, cabai rawit putih seharga Rp30 ribu, cabai hijau besar Rp23 ribu, dan cabai hijau keriting Rp25 ribu per kilogram.

Baca Juga: Ormas 212 dan PSHT Gelar Doa Bersama untuk Korban Pengeroyokan di Loceret Nganjuk

Sri Lestari, salah satu pedagang cabai di Pasar Legi, mengungkapkan bahwa harga cabai terus meningkat selama tiga pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan permintaan yang signifikan menjelang Ramadan, ditambah dengan faktor cuaca yang kurang mendukung. Hujan yang deras menyebabkan banyak tanaman cabai rusak dan busuk, sehingga pasokan terbatas dari daerah penghasil.

“Meski stok cabai rawit merah ada, permintaan melonjak seiring dengan momentum ruwahan dan persiapan Ramadan. Ditambah lagi, cuaca yang tidak bersahabat membuat banyak tanaman cabai rusak, sehingga pasokan terbatas,” kata Sri Lestari.

Baca Juga: Ziarah ke Makam Ayahnya, Megawati Pertegas Semangat Merawat Warisan Bung Karno 

Di sisi lain, harga cabai botol justru mengalami penurunan, dari Rp60 ribu per kilogram menjadi Rp35 ribu per kilogram. Namun, harga cabai rawit merah diprediksi akan terus naik mendekati bulan Ramadan.

Pasokan cabai saat ini berasal dari beberapa daerah seperti Banyuwangi, Kediri, Tawangmangu, dan Cepogo, Boyolali. Sebelumnya, pasokan cabai bisa mencapai lebih dari 50 kilogram per hari, namun kini hanya sekitar 30 hingga 45 kilogram untuk semua jenis cabai.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Pedagang ayam geprek dan penyetan di kawasan UNS Solo, Warni, mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa mencari cara untuk mengatasi lonjakan harga cabai rawit merah. Sebagai pedagang yang berjualan dekat kampus dengan harga makanan yang relatif murah, Warni merasa tertekan karena kenaikan harga bahan pokok lainnya.

“Biasanya mahasiswa suka sekali dengan makanan pedas. Tapi, karena harga cabai rawit merah mencapai Rp90 ribu per kilogram, saya terpaksa mengganti dengan cabai putih yang harganya hanya Rp30 ribu,” ujar Warni, menunjukkan bagaimana dia menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.