Example floating
Example floating
BLITAR

Gus Iqdam Rangkul DJ Terompet dalam Dakwah Sabilut Taubah Blitar

A. Daroini
×

Gus Iqdam Rangkul DJ Terompet dalam Dakwah Sabilut Taubah Blitar

Sebarkan artikel ini

“Ketakutan kami, kalau itu jadi budaya, 10 tahun ke depan, anak-anak yang menyaksikan itu akan punya cita-cita jadi penari di atas sound. Moral bangsa ini lama-kelamaan bisa hancur.” Penegasan ini menunjukkan kekhawatiran mendalam Gus Iqdam terhadap degradasi moral jika fenomena ini dibiarkan tanpa batas.

Solusi Konkret: Mengarahkan, Buka Mematikan Rezeki

Gus Iqdam tidak memilih jalur konfrontasi nmati-matian. Ia justru memilih dialog. Dengan para pemilik sound yang kebanyakan adalah rekan-rekannya, ia berdiskusi mencari titik temu. Meskipun ada keluhan soal investasi miliaran rupiah pada sound system, Gus Iqdam menawarkan solusi: “Silakan pakai sound, tapi jangan ada wanita penari yang kurang pantas.”

Baca Juga: Mantan Wali Kota Blitar Samanhudi Maju Bursa Ketua KONI, Bakal Head to Head dengan Tony Andreas

Dari diskusi inilah lahir strategi dakwah yang kreatif. Alih-alih menghadirkan DJ dengan penari profesional, majelis Sabilul Taubah menghadirkan “dancer-dancer” ala Gus Iqdam sendiri — jamaah majelis yang beraksi dengan atraksi pencak silat dan penampilan kocak.

Ini adalah cara cerdas untuk mengalihkan massa yang terbiasa menonton ‘horeg’ dan DJ di lapangan, agar beralih ke majelis, tanpa mematikan rezeki para pemilik sound.

Baca Juga: Tony Andreas Bongkar Ambisi Besar: Kota Blitar Harus Jadi Macan Porprov

Ketegasan Posisi DJ dan Rekonsiliasi Sosial

Gus Iqdam mempertegas posisinya terkait DJ: ia tidak mendukung keberadaan DJ di luar tempat semestinya. “Sekarang DJ-DJ itu kembali ke tempatnya, ke diskotek,” ujarnya lugas. Ia meyakini bahwa setiap hal memiliki “SOP” dan tempatnya sendiri.

Di diskotek, aksesnya terbatas, berbeda dengan di lapangan terbuka yang dapat dijangkau oleh semua kalangan, termasuk mereka yang pulang bekerja atau anak-anak. Ia bahkan mengisahkan transformasi Pak Roni, mantan pemilik diskotek besar di Kediri, yang kini berhijrah dan aktif di majelisnya, sebagai bukti keberhasilan pendekatan persuasif ini.

Baca Juga: PT TUN Jakarta Kuatkan Putusan Sengketa PSHT, Tim Hukum Sebut SK 2019 Tetap Sah

Kini, berkat komunikasi dan arahan tegas Gus Iqdam, pemandangan acara sound horeg dengan tiket dan penari di lapangan nyaris tidak ada lagi. Para pemilik sound system pun semakin rukun dan siap ber-khidmah di majelis kapan saja dibutuhkan.

“Alhamdulillah, ini berkah dari komunikasi yang baik,” simpul Gus Iqdam. Pesan utamanya adalah pentingnya memberi solusi, bukan hanya menghujat. Bagi Gus Iqdam, ini adalah kunci untuk menjaga persatuan dan kebaikan bangsa. “Indonesia ini PR-nya cuma satu: Rukun,” tegasnya, mengakhiri ceramah dengan pesan persatuan yang kuat.