Sementara itu, sejumlah kiai sepuh dalam tausiyahnya menegaskan kembali peran strategis NU dalam sejarah bangsa. Mulai dari perintisan kemerdekaan, Resolusi Jihad, hingga peran aktif dalam menjaga kedaulatan negara dari berbagai ancaman ideologi, termasuk komunisme, yang pernah mengancam persatuan nasional.
Istighosah ini juga dihadiri seluruh keluarga besar tokoh NU Kota dan Kabupaten Blitar, jajaran Muslimat NU, Fatayat, serta ribuan santriwati. Sejak pukul 07.00 WIB, jamaah telah memenuhi area stadion. Doa bersama dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dan dipimpin para kiai khos dari Kota dan Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Elim Tyu Samba Gaungkan Semangat Kartini, Perempuan Harus Jadi Motor Perubahan
Ketua Panitia, H. Hartono, dalam sambutannya menggunakan bahasa khas Mataraman. Ia menegaskan bahwa istighosah ini merupakan ikhtiar spiritual sebagai doa tolak balak, khususnya bagi masyarakat Kota dan Kabupaten Blitar, serta untuk keselamatan bangsa dan negara secara umum.
“Intinya istighosah ini adalah tombo teko loro lungo—obat agar bala dan musibah menjauh,” pungkasnya.
Baca Juga: Dari Emansipasi ke Prestasi: PERWOSI Blitar Hidupkan Semangat Kartini Lewat Futsal
Secara normatif, kegiatan istighosah ini mencerminkan peran strategis ulama dan umat dalam menjaga harmoni sosial dan spiritual di tengah tantangan zaman. Doa bersama tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas kebangsaan dan meneguhkan nilai persatuan.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa Indonesia tidak hanya bertumpu pada aspek material dan kebijakan, tetapi juga pada kekuatan moral, spiritual, dan kearifan kolektif umat. NU, dengan tradisi keagamaannya yang moderat dan nasionalis, terus meneguhkan posisinya sebagai penjaga keseimbangan antara iman, kebangsaan, dan kemanusiaan.**
Baca Juga: Tak Mau Maju Lagi, Agus Zunaidi Buka Jalan Regenerasi di PPP Kota Blitar












