Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Nganjuk

Diskusi Politik Ala Banyu Biru Djarot Di Prambon Bernuansa Marhaenis

Mulyadi Memo
×

Diskusi Politik Ala Banyu Biru Djarot Di Prambon Bernuansa Marhaenis

Sebarkan artikel ini
IMG20260628150259 scaled

NGANJUK, MEMO – Gaya diskusi politik atau pertemuan sambungrasa Banyu Biru Djarot ( Anggota DPR RI Komisi Vll) dengan konstituennya bisa dibilang beda.

Artinya style jemput bola di luar agenda resmi dewan seperti reses atau jaring aspirasi tetap dilakoni oleh politikus PDIP kelahiran London 1979 ini.

Seperti hari ini ( Minggu, 28/06/2026) , putra musisi kenamaan Eros Djarot ini melakukan diskusi masa depan dengan kelompok kepala desa dari tiga kecamatan ( Prambon, Tanjunganom dan Ngronggot) berlangsung gayeng tanpa skat.

Acara non formal tersebut dilaksanakan di rumah kediaman Titus Sumarlan seorang pengusaha besar di Kabupaten Nganjuk berlokasi di Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon.

Meskipun pertemuan bertajuk ” Sambung Rasa ” ini berlangsung singkat hanya berdurasi kurang dari dua jam namun terkesan cair dan hidup. Penyampaian bidang program di Komisi Vll yang dipegang oleh laki laki alumni Universitas Reading ,London program study investsi perbankan ini di amini oleh para kepala desa dari tiga kecamatan tersebut.

Mulai dari program ekonomi kreatif, destinasi wisata desa, pelatihan skill bagi generasi muda tercakup dalam ngobrol santai tanpa protokoler.

” Saya tidak menjual masa depan, tapi kita berdiskusi bersama apa yang harus kita kerjakan hari ini untuk perubahan jangka panjang,” ucap singkat Banyu Biru Djarot.

Dihadapan para kepala desa , Banyu Biru yang juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Informasi Strategis dan Kebijakan ( DISK) Badan Intelijen Negara ( BIN) ini berusaha membangun ekonomi kerakyatan secara makro sesuai bidang yang ditangani.

Lebih hangatnya lagi dalam pertemuan non formal tersebut, juga diwarnai usulan dan masukan serta kritikan dari kepala desa seputar dunia kesehatan dan komitmen peta politik.

Seperti penyampaian kritikan pedas dari Kepala Desa Ngadirejo, Tanjunganom ,Siswo Widodo menyoal tentang BPJS dan buruknya pelayanan kesehatan di RSD Kertosono.

” Kalau pasien BPJS hanya mendapatkan layanan kesehatan maksimal tiga hari rawat inap ini tidak relefan. Pemerintah harus berani mengambil langkah tepat untuk membuat regulasi baru pro pasien miskin,” kritik pedas disampaikan kepada Banyu Biru Djarot.

Hal senada juga disampaikan salah satu pengurus PAC PDIP Ngronggot, Widi Hermanto secara blak blakan menyampaikan fakta buruk pelayanan di RSD Kertosono.

” Fakta buruknya , rumah sakit milik daerah sebesar itu alat kesehatannya rusak berupa CT scan idak segera diganti. Akibatnya fatal menimpa pasien laka berat akhirnya tidak mendapat layanan rekam medis padahal kondisinya sudah kritis. Mohon dengan realita ini konskeensinya pihak pemerintah daerah segera mencopot direktur rumah sakit,” tandasnya keras.

Untuk diinformasikan juga, diskusi non formal bernuansa kerakyatan tersebut juga dihadiri oleh Ketua DPRD Nganjuk, Tatit Heru Tjahjono bersama staf. (Adi)

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini