Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Desakan Reformasi Total Polri—Menggeser Brimob ke TNI sebagai Antidote Militerisme

A. Daroini
×

Desakan Reformasi Total Polri—Menggeser Brimob ke TNI sebagai Antidote Militerisme

Sebarkan artikel ini

“Brimob itu pasukan perang, bukan pasukan pengayom masyarakat. Letakkan saja Brimob di bawah Kemenhan atau sekalian masuk struktur TNI Angkatan Darat,” demikian usulan yang dilontarkan.

Argumen di balik usulan ini sangat jelas: Kondisi saat ini menunjukkan Polri terlalu kuat secara militer (super body) namun lemah dalam fungsi pelayanan dan perlindungan masyarakat, yang memicu potensi arogansi institusi. Memisahkan Brimob adalah langkah penting untuk menjamin pemisahan fungsi militer dan polisi, sesuai semangat Reformasi 1998.

Baca Juga: Ziarah ke Makam Ayahnya, Megawati Pertegas Semangat Merawat Warisan Bung Karno 

Intrik Politik di Balik Layar Transformasi

Di tengah desakan reformasi ini, situasi terkini di pemerintahan menunjukkan adanya friksi.

Saat ini, pemerintah dilaporkan sedang membentuk Tim Transformasi Kepolisian, yang ironisnya juga diikuti oleh pembentukan tim transformasi tandingan oleh Kapolri sendiri. Kedua tim ini disebut bergerak berseberangan, bukan saling mendukung.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Situasi politik ini semakin menarik perhatian publik setelah beberapa insiden simbolis baru-baru ini:

Presiden terpilih Prabowo Subianto dilaporkan terlihat tidak menyalami Kapolri di sebuah acara.

Baca Juga: Beky Herdihansah Janji Perjuangkan Harga Telur Peternak Rakyat Blitar, Siap Surati Pemerintah Pusat

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga terlihat tidak menyalami Kapolri pada acara ulang tahun TNI ke-80.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan: Apakah insiden tersebut hanya kelalaian manusiawi, ataukah itu adalah sebuah kode keras dari elite politik terhadap situasi internal dan arah reformasi di tubuh Polri?