Blitar, Memo.co.id
Air mata sering kali jatuh tanpa suara dari balik helm yang dikenakan Triyulianti. Di jalanan yang riuh, ia mengais rezeki sebagai pengemudi ojek online demi empat anaknya yang masih kecil. Hidup yang serba terbatas memaksanya menahan rindu, bahkan pada bayinya yang baru berusia tiga bulan.
Baca Juga: Dorong Kepatuhan Halal, Disperindag Blitar Fasilitasi 7 IKM di 2026
“Setiap hari saya harus pergi meninggalkan anak yang masih bayi,” tuturnya pelan, menyembunyikan rasa perih di balik kesibukan.
Kisah serupa datang dari Novi, seorang sopir taksi yang menghabiskan hari-harinya di jalan sejak dini hari hingga malam. Semua dilakukan demi satu tujuan: masa depan anaknya.
“Apapun akan saya lakukan demi anak saya,” ucapnya, dengan nada penuh tekad.
Triyulianti dan Novi hanyalah dua dari sekian banyak perempuan Indonesia yang memikul beban ekonomi keluarga. Mereka tidak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga tulang punggung yang menopang kehidupan. Di tengah keterbatasan, mereka tetap melangkah demi memberi harapan bagi keluarga.
Baca Juga: Geliat Pasar Tradisional Menurun, Pemkot Blitar Dorong Transformasi
Harapan Baru di Tengah Keterbatasan
Di tengah perjuangan perempuan prasejahtera, hadir PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebagai jembatan menuju kemandirian. Lembaga ini mengusung misi untuk membuka akses pembiayaan dan pemberdayaan bagi pelaku usaha ultra mikro, khususnya perempuan.
Melalui program andalannya, PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), PNM tidak hanya menyalurkan modal usaha, tetapi juga memberikan pendampingan intensif. Para nasabah mendapatkan pembinaan rutin, pelatihan pengelolaan keuangan, hingga penguatan keterampilan usaha.
Salah satu kekuatan utama program ini adalah sistem kelompok kecil atau tanggung renteng. Dalam satu kelompok, para perempuan saling terhubung dan mendukung. Mereka bukan hanya penerima pembiayaan, tetapi juga bagian dari jaringan solidaritas.












