MEMO, Padang: Penyebaran hoaks di media sosial menjadi perhatian serius menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
Menurut temuan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Kota Padang pada awal tahun 2023, media sosial, terutama Facebook, menjadi platform yang paling sering digunakan untuk menyebarkan informasi yang tidak benar.
Dalam upaya melawan hoaks, Mafindo Padang aktif melakukan pemantauan dan mengadakan berbagai kegiatan diskusi publik.
Hal ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat menyaring informasi yang benar dan menangkal penyebaran berita hoaks yang dapat mempengaruhi proses demokrasi.
Facebook, Youtube, dan Twitter: Platform Media Sosial yang Rentan Penyebaran Hoaks Politik
Media sosial sering digunakan sebagai sarana penyebaran hoaks menjelang Pemilu 2024. Temuan dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Kota Padang pada awal tahun 2023 menyatakan hal tersebut.
Ketua Komite Edukasi Mafindo Padang, Silmi Novita Nurman, menjelaskan bahwa dari berbagai aplikasi media sosial yang ada saat ini, Facebook menjadi platform yang paling sering digunakan untuk menyebarkan hoaks dan menduduki peringkat pertama. Diikuti oleh Youtube, Twitter, Tik Tok, dan WhatsApp.
Hal ini ditandai dengan banyaknya pengguna akun yang menyebarkan informasi yang tidak benar dan juga ujaran kebencian terhadap calon legislatif yang berpartisipasi dalam Pemilihan Umum (Pemilu) secara serentak pada tahun 2024.
“Pada awal tahun 2023, penyebaran hoaks politik melalui Facebook mencapai tingkat tertinggi. Kita harus membaca setiap informasi yang sampai kepada kita. Edukasi yang kita berikan kepada masyarakat sangatlah penting,” ujar Silmi Novita Nurman (Rabu, 22/5/2023).
Edukasi dan Sosialisasi: Pentingnya Melawan Hoaks pada Pemilu 2024
Silmi Novita Nurman menambahkan bahwa Mafindo Padang terus melakukan pemantauan dan mengadakan berbagai kegiatan diskusi publik di tengah masyarakat sebagai upaya melawan hoaks.
Dalam kegiatan diskusi publik tersebut, Mafindo Padang menghadirkan narasumber yang kompeten dan mengundang peserta dari berbagai kalangan, termasuk generasi muda, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Di sisi lain, seorang warga Padang bernama Nadia mengakui bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa berita hoaks selalu muncul pada “tahun-tahun politik”.
Oleh karena itu, sebagai masyarakat, kita harus mampu menyaring setiap informasi dan melawan penyebaran berita hoaks yang marak di media sosial.
“Sebagai masyarakat, sebelum menyebarkan informasi, kita harus mencari kebenarannya terlebih dahulu. Kita perlu menyaring dan mencari apakah sumber informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak,” ujar Nadia.
Nadia berharap bahwa penyelenggara pemilu akan gencar memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, sehingga sumber informasi hoaks yang tersebar di media sosial tidak menjadi sumber perpecahan antar kelompok.
Penyebaran hoaks di media sosial, terutama menjelang Pemilu 2024, merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Temuan Mafindo Padang mengungkapkan bahwa Facebook menjadi platform yang paling rentan digunakan untuk menyebarkan hoaks politik.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengedukasi diri dan menyaring setiap informasi yang diterima sebelum mempercayainya.
Mafindo Padang melakukan berbagai kegiatan diskusi publik sebagai upaya melawan hoaks dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Dengan adanya edukasi dan kesadaran masyarakat, diharapkan penyebaran hoaks di media sosial dapat ditekan, sehingga proses demokrasi dapat berjalan dengan lebih transparan dan adil.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












