Seiring waktu, inovasi membimbingnya untuk merakit berbagai mesin tambahan, memungkinkannya untuk memproduksi tusuk-sate secara mandiri.
Dalam proses produksi, satu batang bambu harus melewati setidaknya enam mesin sebelum siap dikemas. Uniknya, sebagian besar mesin di rumah produksinya adalah hasil rakitan tangan Herno sendiri, sementara sisanya diperoleh dari luar kota.
Saat ini, Herno dibantu oleh lima karyawan yang merupakan kerabat dan warga sekitar untuk proses produksi, serta empat anggota keluarganya yang fokus pada pengemasan. Meskipun permintaan terus melonjak, Herno memilih untuk tetap fokus pada bisnis tusuk-sate.
“Kedepannya masih mau fokus bikin tusuk-sate dulu, soalnya ini saja saya masih kewalahan. Kalau tambah usaha lain pasti keteteran,” pungkasnya.
Baca Juga: Sentuhan Tangan Emas dari Trenggalek yang Menyembuhkan Pasien Tanpa Pamrih












