Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Analisis Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini: Potensi Penguatan dan Pelemahan Menyusul Libur Thanksgiving

A. Daroini
×

Analisis Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini: Potensi Penguatan dan Pelemahan Menyusul Libur Thanksgiving

Sebarkan artikel ini
Analisis Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini: Potensi Penguatan dan Pelemahan Menyusul Libur Thanksgiving

MEMO,Jakarta:      Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini menjadi sorotan utama dengan prediksi fluktuatif yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian.

Analisis pasar uang oleh Ariston Tjendra menyoroti penguatan rupiah ke posisi Rp.15.500, seiring dengan potensi pelemahan hingga Rp15.600 per dollar AS.

Baca Juga: Ziarah ke Makam Ayahnya, Megawati Pertegas Semangat Merawat Warisan Bung Karno 

Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS, seperti yang diungkapkan dalam notulen terbaru The Fed. Bagaimana perkembangan ini memengaruhi pasar dan apa implikasinya bagi rupiah?

Dampak Libur Thanksgiving: Rupiah Menguat 22 Poin, Analisis Terkini oleh Ariston Tjendra

Hari ini, pergerakan nilai tukar rupiah diprediksi akan sangat fluktuatif, dipengaruhi oleh tingginya tingkat ketidakpastian.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Pada Kamis kemarin, rupiah mengalami penguatan sebesar 22 poin atau 0,14%, berada di posisi Rp15.553 per dollar AS.

Faktor-faktor Penggerak Rupiah: Dolar AS Kembali Menguat, Sentimen Ekspektasi Inflasi dan Keputusan BI

Ariston Tjendra, seorang analis pasar uang, memproyeksikan potensi penguatan rupiah ke kisaran Rp.15.500, sementara potensi pelemahan mungkin mencapai Rp15.600 per dollar AS.

Baca Juga: Beky Herdihansah Janji Perjuangkan Harga Telur Peternak Rakyat Blitar, Siap Surati Pemerintah Pusat

Menurut Ariston, sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah terhadap dollar AS tampaknya belum berubah. Masih ada perhatian pasar terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga acuan AS ke depan. The Fed, dalam notulen terbarunya, menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga, karena memerlukan data terbaru yang menunjukkan sulitnya penurunan inflasi di AS.

“Asemalam tidak ada data ekonomi penting terbaru dari AS karena libur Thanksgiving. Namun, berdasarkan perkembangan semalam, dollar AS kembali menguat terhadap mata uang utama dunia,” ujar Ariston.

Indikasi tersebut memungkinkan bahwa dollar AS akan menguat di pasar Asia dan pasar emerging. Di sisi lain, survei CME FedWatch Tool menunjukkan adanya perkembangan dalam ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS.

“Pasar melihat penurunan inflasi di AS meskipun belum mencapai target. Ini dapat mendorong pelemahan dollar AS terhadap mata uang lainnya,” kata Ariston.

Dari dalam negeri, Ariston berpendapat bahwa keputusan suku bunga Bank Indonesia mungkin tidak akan banyak mempengaruhi pasar karena sesuai dengan ekspektasi. Namun, pernyataan mengenai inflasi yang rendah dan terkendali mungkin dapat memberikan sentimen positif untuk rupiah.

“Dengan dua sentimen yang berlawanan ini, pergerakan rupiah terhadap dollar AS mungkin akan seperti hari ini. Rupiah melemah dan kemudian menguat,” tutur Ariston menutup analisisnya.

Sementara itu, indeks harga saham diperkirakan akan melanjutkan penguatannya hari ini, meskipun dalam skala tipis. Setelah kemarin ditutup di posisi 7.004, mengalami kenaikan sebesar 97,39 poin atau 1,41%.

BNI Sekuritas mencatat bahwa penguatan indeks saham kemarin didukung oleh aksi beli asing sebesar Rp965 miliar. Saham-saham yang paling banyak dibeli oleh asing antara lain BBRI, GOTO, BBNI, BMRI, dan BBCA.

“Hari ini, IHSG memiliki potensi untuk menguat tipis ke level 7.050, setelah Bank Indonesia menahan suku bunga. Level support IHSG berada di 6.940-6.960, sementara level resist IHSG berada di 7.020-7.050,” kata Fanny Suherman, Kepala Analis Riset Retail BNI Sekuritas dalam analisisnya hari ini.

Dalam penutupannya, Ariston Tjendra mencatat bahwa pergerakan rupiah versus dollar AS mungkin akan bersifat dinamis, dengan kemungkinan pelemahan diikuti oleh penguatan.

Faktor seperti kebijakan suku bunga AS, data inflasi yang sulit turun, dan sentimen pasar terhadap keputusan Bank Indonesia memainkan peran penting. Sementara IHSG berpotensi menguat tipis, aksi beli asing pada saham-saham tertentu menjadi salah satu pendorongnya.

Dengan ekspektasi pasar yang beragam, pelaku pasar diharapkan memperhatikan perubahan dinamika ekonomi global dan nasional untuk mengambil keputusan yang tepat.