Example floating
Example floating
BLITAR

Bursa Ketua DPC PKB Blitar Memanas, Gus Tamim dan Fathoni Muncul Sebagai Penantang Serius Mak Rini

Prawoto Sadewo
×

Bursa Ketua DPC PKB Blitar Memanas, Gus Tamim dan Fathoni Muncul Sebagai Penantang Serius Mak Rini

Sebarkan artikel ini

Blitar, memo.co.id

Aroma persaingan di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Blitar kian terasa menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) yang dijadwalkan pada Sabtu, 28 Maret 2026. Bursa calon Ketua DPC tak lagi sekadar formalitas lima tahunan, melainkan berubah menjadi ajang adu kekuatan antar figur berpengaruh.

Baca Juga: Dari Jalanan Menuju Kemandirian, Kisah Inspiratif Nasabah PNM Mekaar

Di tengah dominasi nama petahana Rini Syarifah atau Mak Rini, dua sosok justru mencuri perhatian sebagai penantang serius: Ahmad Tamim (Gus Tamim) dan Nur Fathoni.

Keduanya bukan sekadar pelengkap bursa. Mereka datang membawa “arus baru” yang berpotensi mengguncang peta kekuatan lama di internal PKB Blitar.

Baca Juga: Pesta Mercon di Tengah Jalan Picu Keributan, Warga Tantang Polisi: “Buka Baju, Sekalian Kelahi!”

Gus Tamim: Koneksi Provinsi, Sinyal Restu Struktur?

Nama Ahmad Tamim atau Gus Tamim menjadi magnet baru dalam kontestasi ini. Sebagai anggota DPRD Jawa Timur, ia tidak hanya bermain di level lokal, tetapi juga memiliki akses langsung ke dinamika politik tingkat provinsi.

Baca Juga: Dari Meja Miras ke Bara Api: Kronologi Pembakaran Toko di Garum

Masuknya Gus Tamim ke bursa Ketua DPC dinilai bukan tanpa sinyal. Sejumlah kalangan internal menyebut, kemunculannya bisa menjadi representasi keinginan adanya sinkronisasi gerak politik antara DPW dan DPC.

“Kalau bicara kekuatan jaringan dan komunikasi ke atas, Gus Tamim jelas punya itu. Ini bukan sekadar kontestasi lokal,” ujar sumber internal yang enggan disebutkan namanya.

Dengan basis Nahdliyin yang kuat serta jejaring struktural yang luas, Gus Tamim berpotensi menjadi “kuda hitam” yang mampu memecah dominasi petahana.

Nur Fathoni: Senior Parlemen yang Tak Bisa Diabaikan

Sementara itu, Nur Fathoni tampil sebagai penantang dengan kekuatan berbeda. Empat periode duduk di DPRD Kabupaten Blitar bukan angka kecil. Ia dikenal sebagai legislator senior yang memahami betul denyut kebijakan daerah sekaligus dinamika partai.

Berbeda dengan Gus Tamim yang kuat di jaringan atas, Fathoni bermain di wilayah pengalaman dan kedalaman struktur bawah.

“Fathoni ini pemain lama. Dia tahu peta, tahu orang, dan tahu cara kerja mesin partai,” ungkap sumber lain.

Kombinasi pengalaman panjang dan relasi internal menjadikan Fathoni bukan sekadar kandidat, tetapi ancaman nyata bagi siapapun yang ingin melenggang mulus.

Petahana Tak Lagi Sendirian di Puncak

Mak Rini memang masih menjadi figur sentral. Statusnya sebagai mantan Bupati Blitar dan Ketua DPC aktif memberi keunggulan tersendiri, baik dari sisi pengalaman maupun kontrol jaringan.

Namun, dengan masuknya nama-nama seperti Gus Tamim dan Fathoni, kontestasi dipastikan tidak akan berjalan satu arah.

Apalagi, beberapa nama lain seperti Muhammad Rifa’i, Lutfi Aziz, dan Ufik Rohmatul Fitria turut meramaikan bursa, meski belum sekuat dua penantang utama tersebut dalam mempengaruhi arah pertarungan.

Mekanisme Ketat, Penentu di Tangan DPP

Menariknya, perebutan kursi Ketua DPC PKB tidak semata ditentukan oleh popularitas atau dukungan akar rumput. Proses seleksi tetap berada dalam kendali struktur partai.

Tim penataan dari DPW akan melakukan pemetaan, sebelum nama-nama diserahkan ke DPP untuk mendapatkan persetujuan. Selanjutnya, kandidat wajib mengikuti Uji Kompetensi dan Kelayakan (UKK).

Artinya, semua kandidat baik petahana maupun penantang masih harus melewati “gerbang pusat”.

Pertaruhan Arah PKB Blitar

Muscab 28 Maret 2026 bukan sekadar agenda rutin. Ini adalah titik penentuan arah PKB Blitar lima tahun ke depan.

Apakah partai akan tetap di tangan petahana dengan pola lama, atau beralih ke figur baru dengan pendekatan berbeda?

Yang jelas, dengan munculnya Gus Tamim dan Nur Fathoni sebagai penantang serius, pertarungan ini tak lagi sekadar formalitas. Ini duel terbuka, dengan segala kemungkinan yang masih cair.*