Blitar, memo.co.id
Carut-marut proses perekrutan tenaga outsourcing dan Tenaga Harian Lepas (THL) di Kota Blitar memantik kemarahan publik. Puluhan massa yang mengatasnamakan Gerbang Pejuang Nusantara (GPN), Kamis 22 Januari 2026, bakal menggruduk Gedung DPRD Kota Blitar di Jalan A. Yani.
Baca Juga: Jaka Prasetya: Polri Lebih Kuat Jika Tetap di Bawah Presiden
Aksi ini dipimpin langsung oleh Mujiono alias Mbah Monot. GPN menilai proses perekrutan outsourcing amburadul dan sama sekali tidak berpihak pada wong cilik. Ironisnya, DPRD sebagai lembaga pengawas kebijakan pemerintah justru dinilai mandul dan gagal menjalankan fungsi kontrol.
Sedikitnya seratus perwakilan massa mendatangi gedung wakil rakyat untuk melakukan dengar pendapat. Mereka menuntut kejelasan nasib ratusan bahkan ribuan tenaga outsourcing dan THL yang hingga kini menggantung tanpa kepastian.
Baca Juga: Mediasi Pemulihan Artefak Situs Mejo Miring Blitar Buntu Akibat Penolakan Keras Kelompok Spiritual
“Kami bersama rekan-rekan GPN mewakili ratusan tenaga outsourcing yang sampai hari ini nasibnya tidak jelas. Kami datang langsung ke DPRD untuk menanyakan, sebenarnya ke mana arah perekrutan tenaga outsourcing dan THL ini. Ini bukan soal administrasi, ini soal nasib orang kecil,” tegas Wakil Sekjen GPN, Pipit Sri Pamungkas, Selasa 20 Januari 2026.
Pipit mengungkapkan, surat permohonan dengar pendapat sudah dilayangkan ke DPRD Kota Blitar sejak Senin 19 Januari 2026. GPN menyoroti kuat dugaan ketidakberesan dalam proses perekrutan tenaga THL dan outsourcing yang akan didampingi oleh GPN yang bermarkas di Wlingi.
Baca Juga: Aksi Pengambilan Artefak Situs Mejo Miring Blitar Picu Kontroversi Kelompok Spiritua
Salah satu contoh paling mencolok terjadi di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Sejumlah tenaga outsourcing yang telah dinyatakan lolos seleksi bahkan sempat mulai bekerja, tiba-tiba dibatalkan secara sepihak tanpa penjelasan yang jelas.
“Mereka sudah lulus seleksi, sudah masuk kerja, tapi mendadak dibatalkan. Ini tidak manusiawi. Dan kejadian serupa bukan hanya di rumah sakit, tapi hampir terjadi di puluhan OPD,” beber Pipit.












