Blitar, memo.co.id
Aroma persoalan dalam tata kelola anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Blitar kian menyengat. Bukan sekadar isu teknis, dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Blitar tumbang hampir bersamaan, menimbulkan tanda tanya besar soal keseriusan negara menjamin hak gizi anak-anak di penghujung tahun anggaran 2025.
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah
Setelah SPPG Pakunden menghentikan operasional secara total sejak Senin (15 Desember 2025), kini kondisi serupa terjadi di SPPG Tanjungsari. Bedanya, jika Pakunden menutup dapur sepenuhnya, SPPG Tanjungsari memilih jalan darurat: mengganti menu makan bergizi basah dengan makanan kering yang dirapel untuk jatah tiga hari sekaligus.
Langkah ini diambil bukan tanpa sebab. Aliran dana yang seharusnya menopang operasional dapur MBG dilaporkan macet.
Baca Juga: Era Digital dan Tantangan Akurasi, Jairi Irawan Gelar Diskusi Bersama Jurnalis Blitar
Salah satu warga penerima manfaat MBG dari wilayah Tanjungsari, Alfia, membenarkan adanya perubahan drastis tersebut. Informasi itu diterimanya melalui pihak sekolah anaknya pada Selasa 16 Desember 2025.
“Informasinya dari sekolah, jatah Senin, Selasa, dan Rabu diberikan sekaligus, tapi dalam bentuk menu kering,” ujar Alfia kepada memo.co.id.
Baca Juga: Retribusi atau Pungli? Jalur Perbatasan Blitar–Malang Disorot
Hal senada disampaikan Ninda, warga lainnya. Ia mengaku menerima pesan pemberitahuan mengenai penghentian sementara layanan normal MBG.
“Iya, dapat menu kering. Katanya sementara karena ada penghentian operasional,” ucapnya singkat.
Bantuan Pemerintah Belum Cair
Jika SPPG Pakunden sebelumnya menyampaikan alasan “kendala administrasi akhir tahun”, SPPG Tanjungsari justru lebih blak-blakan. Melalui pesan WhatsApp yang diteruskan kepada para penerima manfaat, pengelola dapur secara terbuka menyebut bahwa Bantuan Pemerintah belum cair.
Dalam pesan tersebut, pihak SPPG Tanjungsari mengakui bahwa mereka sebenarnya disarankan untuk menghentikan operasional sejak awal pekan, namun tetap memaksakan layanan dengan dana seadanya.
“Dikarenakan Bantuan Pemerintah yang belum cair, menu yang kami kirimkan terpaksa berupa makanan kering untuk hari Senin, Selasa, dan Rabu. Sebenarnya kami disarankan berhenti operasional hari Senin, namun tetap kami usahakan agar anak-anak tetap mendapatkan haknya menerima MBG,” demikian petikan pesan yang diterima warga.












