Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
BLITAR

Investigasi Solar Subsidi, Wartawan di Tulungagung Babak Balur Dikeroyok

Prawoto Sadewo
×

Investigasi Solar Subsidi, Wartawan di Tulungagung Babak Balur Dikeroyok

Sebarkan artikel ini

Tulungagung, Memo.co.id

Seorang wartawan lokal, (AB), menjadi korban pengeroyokan yang diduga berkaitan dengan upayanya mengungkap praktik penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Baca Juga: Samanhudi Nyatakan Mundur, Elim Gantikan Pimpin KONI Kota Blitar

Peristiwa tersebut terjadi di sebuah kafe karaoke di kawasan timur GOR Lembu Peteng, Tulungagung, Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 02.30 WIB. Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka di beberapa bagian tubuh.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kasus bermula ketika korban bersama beberapa rekan sesama jurnalis melakukan penelusuran terkait dugaan penyelewengan solar subsidi di sejumlah SPBU di Tulungagung. Dalam investigasi tersebut, korban mengaku menemukan aktivitas pengangkutan BBM menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi.

Baca Juga: Fatatoh Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Larung Sesaji sebagai Warisan Budaya

AB menuturkan, pada Kamis (18/6/2026), dirinya mendapati sebuah truk yang diduga digunakan untuk mengangkut solar subsidi dalam jumlah besar. Tak lama setelah itu, sejumlah orang yang mengaku sebagai pengawal distribusi solar milik seseorang berinisial RS mendatanginya.

Menurut pengakuan korban, kelompok tersebut sempat menawarkan kerja sama dengan imbalan sejumlah uang agar aktivitas pengangkutan BBM tersebut tidak dipublikasikan. Namun, tawaran itu disebut ditolak.

Baca Juga: Monev Gabungan Perkuat Pengawasan, Bapenda Blitar Optimistis Target Pajak MBLB Tercapai

“Setelah aktivitas itu selesai, mereka berkumpul di sebuah kafe. Saya kemudian mendapat undangan untuk datang ke lokasi tersebut,” ujar AB, Sabtu (20/6/2026).

Korban mengaku memenuhi undangan tersebut karena ingin memperoleh keterangan lebih lanjut terkait aktivitas yang tengah diinvestigasinya. Namun, situasi yang semula dianggap sebagai pertemuan biasa berubah menjadi aksi kekerasan.