LANNY JAYA, MEMO
Duka menyelimuti Dusun Numbukkawi, Papua Tengah. Pagi itu, keheningan desa terpecah oleh isak tangis yang mengiringi kepergian seorang panutan, Erson Weya. Di usia 64 tahun, sosok yang dikenal sebagai tokoh masyarakat yang religius dan mampu mengayomi warganya itu kini telah berpulang, meninggalkan dua istri, tujuh anak, dan sebelas cucu.
Namun, di tengah kesedihan yang mendalam, sebuah uluran tangan datang. Para prajurit Satgas Yonif 511/DY Pos Malagai, yang dipimpin oleh Lettu Inf Sena Nurjabbar, hadir bukan sebagai aparat keamanan, melainkan sebagai saudara.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Mereka larut dalam suasana duka, mengikuti prosesi kremasi, berdoa bersama, dan memberikan dukungan nyata berupa bantuan bahan makanan pokok untuk keluarga almarhum.
Melihat kepedulian tersebut, perwakilan keluarga almarhum, Gambir Weya, tak kuasa menahan haru. “Terima kasih banyak untuk Bapak Danyon 511, Bapak Danki, dan seluruh anggota yang sudah hadir membantu, memberikan kopi, beras, gula, dan mie di acara duka ini,” tuturnya, menunjukkan rasa syukur yang mendalam.












