Blitar, Memo
PT Greenfields Dairy Indonesia (Greenfields Indonesia) meresmikan fasilitas biogas berskala besar di peternakan keduanya yang berlokasi di Blitar, Jawa Timur. Dengan kapasitas 12.000 meter kubik, reaktor ini menjadi fasilitas biogas terbesar di sektor peternakan sapi perah di Indonesia, mampu mengelola limbah kotoran dari sekitar 10.000 ekor sapi setiap harinya.
Baca Juga: Solid dan Humanis, PSHT Letting 2025 Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Aksi Ramadan
Peresmian fasilitas dilakukan melalui penandatanganan plakat oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono B., sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap langkah Greenfields dalam pengelolaan limbah berkelanjutan dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
“Hari ini kita menyaksikan langkah konkret dan progresif dalam mewujudkan pertanian dan peternakan berkelanjutan di Indonesia. Peresmian fasilitas biogas ini bukan hanya bukti komitmen sektor swasta dalam pengelolaan limbah ramah lingkungan, tapi juga kontribusi nyata terhadap program energi baru terbarukan nasional,” ujar Sudaryono, Rabu (30/7/2025).
Baca Juga: Refleksi Setahun Pemkot Blitar: 70 Penghargaan hingga Tantangan Pangkas APBD 80 Persen
Ia menegaskan bahwa Kementerian Pertanian mengapresiasi inisiatif ini sebagai bagian dari transformasi menuju sistem pertanian dan peternakan modern yang berkelanjutan. “Kami berharap ini dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha peternakan lainnya di seluruh tanah air,” tambahnya.
CEO Greenfields Indonesia, Akhil Chandra, mengatakan bahwa perusahaan akan terus memperkuat visi Greenfields Farming Philosophy, yang menjamin produksi berjalan secara terintegrasi, bertanggung jawab, serta berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Bos Wisata Kampung Coklat Beri THR kepada 7.000 Peserta Pengajian
“Fasilitas ini menegaskan komitmen kami pada pilar keberlanjutan, khususnya dalam mengubah limbah peternakan menjadi energi baru terbarukan yang memberi nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” jelas Akhil.
Fasilitas ini menggunakan teknologi biodigester untuk mengolah limbah menjadi gas metana, dengan rata-rata produksi harian mencapai 7.200 meter kubik. Gas metana ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik hingga 15.800 kilowatt-jam per hari, serta dikompresi menjadi gas cair bernilai tinggi.
General Manager Farm Greenfields, Richard A. Slaney, menambahkan bahwa sistem biogas yang dibangun selama hampir dua tahun ini telah dirancang sesuai standar baku mutu limbah terbaru, serta membuka peluang dalam sektor energi, seperti pembangkit listrik dan perdagangan karbon.
“Fasilitas ini juga mengolah limbah menjadi pupuk organik cair yang digunakan untuk tanaman rumput odot sebagai pakan ternak. Selain itu, juga dimanfaatkan untuk budidaya tanaman kopi di sekitar peternakan, sehingga meningkatkan nilai jual kopi lokal dengan sertifikasi organik,” pungkas Richard.
Dengan peresmian ini, Greenfields Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam memimpin praktik agribisnis berkelanjutan dan mendukung agenda energi hijau di Indonesia.












