Memo, Blitar Video Kekerasan Siswa Guncang Blitar.
Sebuah video singkat, namun mengerikan, kini menjadi virus yang menggerogoti ketenangan Kabupaten Blitar.
Rekaman berdurasi kurang dari satu menit itu bukan sekadar tontonan biasa; ia adalah sebuah testimoni bisu tentang kekejaman yang terjadi di dalam tembok sekolah, tempat seharusnya harapan dan masa depan digembleng.
Baca Juga: Satu Komando! PSHT Blitar Tegaskan Legalitas, Dorong Forkopimda Ambil Langkah Nyata
Video tersebut menampilkan seorang siswa berseragam SMP, tak berdaya, menjadi sasaran bogem mentah dan tendangan bertubi-tubi dari sekelompok remaja sebaya. Lokasi kejadian? Diduga kuat di sebuah SMP Negeri di Kecamatan Doko, Blitar.
Parade kekerasan itu terasa semakin menusuk ketika diperhatikan lebih dalam. Potongan demi potongan adegan memperlihatkan korban dihina, dipukul, dan ditendang tanpa mampu memberikan perlawanan. Namun, yang paling memilukan adalah latar belakang di balik kengerian itu: belasan siswa lain, yang seharusnya menjadi saksi mata yang peduli, justru hanya berdiri mematung.
Baca Juga: Elim Tyu Samba Gaungkan Semangat Kartini, Perempuan Harus Jadi Motor Perubahan
Tanpa empati. Tanpa satu pun tangan terulur untuk menghentikan. Seolah-olah, kekerasan telah menjadi rutinitas, sebuah pertunjukan tanpa perlu penonton yang bergeming, di lingkungan yang seharusnya mendidik.
Video yang awalnya “bersarang” di grup WhatsApp warga Blitar ini tak butuh waktu lama untuk menyebar luas, mengguncang jagat media sosial. Ribuan komentar membanjiri lini masa, sebagian besar berisi kutukan keras terhadap para pelaku dan, yang lebih penting, pertanyaan besar terhadap institusi pendidikan.
Baca Juga: Dari Emansipasi ke Prestasi: PERWOSI Blitar Hidupkan Semangat Kartini Lewat Futsal
Netizen menyuarakan kegeraman mereka, menuding sekolah dan Dinas Pendidikan Blitar gagal dalam misi utamanya: menciptakan iklim belajar yang aman dan membentengi murid dari praktik keji semacam ini.
“Ini bukan sekadar perundungan. Ini adalah cermin kebobrokan sistem pengawasan dan pembinaan di sekolah kita,” kata Yanto, seorang warga Blitar, dengan suara penuh amarah setelah menyaksikan video itu. Nada kekecewaan tak bisa disembunyikan dari setiap kalimatnya.
Menurut Yanto, dalih “tidak tahu” atau “di luar kendali” tak bisa lagi menjadi perisai bagi pihak sekolah. Ia menuntut agar para pelaku tak hanya dihukum, melainkan mendapatkan pembinaan yang ketat dan menyeluruh, menyentuh akar permasalahan, bukan sekadar memangkas dahan.












