Kediri, Memo
Sebuah kamar kontrakan sederhana di bekas lokalisasi Dusun Duluran, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, menjadi saksi bisu kepergian Fandikta, seorang pria 31 tahun dari Malang. Pada Rabu dini hari, Dikta ditemukan tak bernyawa, diduga kuat akibat kelelahan setelah berhari-hari mengeluh pusing dan sesak napas. Kisah tragis ini menyisakan duka bagi keluarga dan tanda tanya bagi mereka yang mengenalnya.
Kapolsek Pare Polres Kediri, AKP Rudi Darmawan, mengurai detail perjalanan Dikta. Pria ini tiba di Pare pada Minggu (15/6/2025), jauh dari kampung halamannya di Malang, dengan misi sederhana: memperbaiki instalasi WiFi. Sebuah pekerjaan yang mungkin terlihat rutin, namun menjadi babak terakhir dalam hidupnya.
“Pada Selasa (17/6/2025) sekitar pukul 13.00 WIB, korban mengeluh pusing setelah makan siang dan tidur siang,” tutur AKP Rudi, menggambarkan awal mula gejala yang dialami Fandikta. Kondisinya memburuk dengan cepat. “Kemudian pada Rabu dini hari sekitar pukul 01.30 WIB, korban mengeluh sesak napas dan kejang-kejang sebelum akhirnya meninggal dunia.”
Ningsih (24), yang berada di lokasi saat kejadian, menjadi saksi kunci detik-detik terakhir Dikta. Dalam kepanikan, ia sempat berlari keluar mencari pertolongan sekitar pukul 02.00 WIB. Sayangnya, bantuan tak kunjung tiba secepat yang diharapkan.
Baca Juga: Camat Ngaku Terdesak Kepala Desa Sodorkan Kresek Hitam, Terima Uang Karena Wanita
“Saat kembali ke kontrakan sekitar pukul 02.45 WIB, saksi menemukan korban sudah tidak bernyawa,” tambah AKP Rudi, menggambarkan momen getir penemuan jenazah.
Sadar akan musibah yang terjadi, Ningsih segera menghubungi keluarga Fandikta di Malang. Pihak berwenang setempat, mulai dari RT, RW, perangkat desa, hingga Polsek Pare, baru menerima laporan sekitar pukul 06.00 WIB.
Baca Juga: Tragedi Ledakan Petasan Rakitan Di Ponorogo Merenggut Nyawa Seorang Pelajar Muda
Pemeriksaan awal oleh tim medis dan INAFIS Polres Kediri tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Fandikta, menguatkan dugaan kematian alami. Namun, ada latar belakang gaya hidup yang mungkin berkontribusi.
“Menurut keterangan keluarga, korban sering touring sepeda motor jarak jauh dan memiliki kebiasaan begadang,” ungkap AKP Rudi. Sebuah kebiasaan yang, di tengah tuntutan pekerjaan, bisa jadi menguras cadangan energi dan daya tahan tubuhnya.
Keluarga Dikta di Malang telah menerima kepergiannya sebagai takdir. Mereka memutuskan untuk tidak menuntut secara hukum dan menolak otopsi, memilih untuk segera memakamkan pria yang mereka cintai itu dengan tenang. Kisah Fandikta menjadi pengingat akan kerapuhan hidup dan pentingnya menjaga kesehatan, terutama bagi mereka yang terbiasa hidup dengan rutinitas padat dan minim istirahat.












