Trenggalek, Memo |
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Trenggalek baru-baru ini merilis data mengejutkan terkait kebiasaan belanja masyarakatnya di tahun 2024. Alih-alih memprioritaskan asupan gizi, warga Trenggalek ternyata lebih banyak mengalokasikan dananya untuk membeli rokok daripada daging.
Baca Juga: Ketua DPRD; Lingkungan Hidup Jadi Prioritas Utama RPJMD Trenggalek 2025–2029
Laporan Susenas BPS Trenggalek menunjukkan bahwa porsi pengeluaran untuk rokok mencapai 9 persen dari total konsumsi makanan, menempatkannya di posisi ketiga setelah makanan dan minuman jadi (27 persen) serta padi-padian seperti beras (16 persen). Sementara itu, pengeluaran untuk daging hanya 4 persen, setara dengan bumbu dan bahan minuman.
Mimik Nurjanti, Kepala BPS Trenggalek, mengungkapkan bahwa rokok masih memegang porsi signifikan dalam struktur pengeluaran rumah tangga untuk makanan. Data juga menunjukkan bahwa konsumsi protein dari telur dan susu berada di angka 6 persen, sayuran 6 persen, dan buah-buahan 7 persen.
Menurut Mimik, angka-angka ini mencerminkan preferensi konsumsi warga yang dihitung dari seluruh pengeluaran bulanan untuk kelompok makanan, baik yang dibeli, diberikan, maupun dihasilkan sendiri. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Trenggalek mencapai Rp500.993, sedikit lebih tinggi dibandingkan pengeluaran non-makanan.
Temuan ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi para pemangku kebijakan di bidang pangan dan kesehatan. Edukasi intensif diperlukan untuk menyeimbangkan pola konsumsi masyarakat demi asupan gizi yang lebih baik dan berkelanjutan. Selain itu, data ini dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan program bantuan sosial, pendidikan keluarga, serta strategi peningkatan kualitas hidup di Kabupaten Trenggalek.
Baca Juga: Potret Ekonomi Trenggalek: Belanja Konsumsi Dominasi Biaya Hidup Warga per Bulan
BPS, Trenggalek, Rokok, Daging, Pengeluaran Masyarakat, Gaya Hidup, Kesehatan, Ekonomi, Pola Konsumsi












